Gowes Bersama Bocah Menggunakan Boncengan Sepeda

Sebelum Hatta dan Sjahrir hadir ke dunia, aku dan Ray menggilai aktivitas bersepeda. Kami kerap menyusuri jalur-jalur tanah di daerah perbukitan, mengeksplor jalanan aspal perkotaan, atau sekedar sightseeing keliling danau. Aktivitas itu sempat terhenti ketika aku hamil Hatta. Namun begitu usianya menginjak 4 bulan, kami segera hunting boncengan sepeda. Setidaknya bisa mengajak Hatta keliling kompleks rumah saja dulu.

Kebetulan sekali, suatu hari ketika sedang asyik membolak-balik halaman koran, tiba-tiba iklan sale aksesori sepeda di RodaLink tertangkap mataku. Boncengan sepeda anak bermerek Qibbel buatan Belanda termasuk yang didiskon juga—50% off pula (!) sehingga harganya menjadi Rp500.000. Langsung kami meluncur ke toko RodaLink terdekat untuk mengeceknya.

Untung kami menanyakan ketersediaan barangnya terlebih dahulu karena rupanya boncengan sepeda bermerek Qibbel yang di-sale itu tidak dipajang di toko. Ketika dikeluarkan dari gudang, aku dan Ray langsung jatuh cinta melihat tampilan si Qibbel yang kokoh dan klasik.

boncengan sepeda qibbel
boncengan sepeda qibbel

Dengan rangka besi serta dudukan plastik tebal, boncengan sepeda Qibbel menggunakan seatbelt three-point-harness untuk memastikan keamanan si kecil. Fitur lainnya adalah bagian khusus yang melindungi kaki anak (lengkap dengan strap pengikat kaki) dari bahaya tersangkut rantai sepeda. Dengan kapasitas angkut beban hingga 22 kg, ukurannya cukup besar dan memang agak berat (4 kg), namun terlihat kuat dan meyakinkan.

Boncengan Qibbel bisa dipasang di atas roda belakang sepeda menggunakan adaptor yang dijual terpisah. Namun karena sepeda gunung Ray sudah dilengkapi dengan rak sepeda di bagian belakangnya, boncengan tersebut bisa langsung dipasang di atasnya. Belakangan aku baru tahu, kalau kita menggunakan adaptor  produksi Qibbel, posisi dudukannya bisa dinaik-turunkan untuk membuat si kecil lebih nyaman jika tertidur dalam perjalanan.

Selain itu, Hatta juga dibelikan helm sepeda ukuran kecil dari sebuah toko hardware. Untung saja ada ukuran yang pas untuk anak balita, lengkap dengan motif yang lucu-lucu. Setelah beberapa kali percobaan dan melihat orangtuanya menggunakan helm juga, akhirnya Hatta mau memakai helm sepedanya sendiri.

Hatta memakai helm sepeda
Hatta memakai helm sepeda

Kami perlu menunggu hingga Hatta bisa duduk tegak sendiri, atau di usia sekitar 6 bulanan, sebelum mengajaknya bersepeda menggunakan si Qibbel. Pengalaman pertamanya bersepeda keliling kompleks menggunakan boncengan Qibble berlangsung mulus. Hatta senang sekali, terbuai menikmati semilir angin di sepanjang perjalanan.

Membonceng Hatta (yang waktu itu berbobot sekitar 8 kg) tidak terasa berat sama sekali. Manuver sepeda menggunakan boncengan Qibble tetap mudah dan mulus, dan apabila kaki si kecil distrap ke bagian pelindung kaki, maka tidak akan mengganggu pengemudi di depan.

Boncengan sepeda di jalanan
Boncengan sepeda di jalanan

Sayangnya kedua tali pengikat kaki yang terbuat dari lempengan plastik tidak terpasang secara permanen sehingga mudah lepas jika tidak diikat dengan kencang. Kami akhirnya kehilangan salah satu tali pengikat tersebut ketika bersepeda.

Kini Hatta dan Sjahrir selalu antusias duduk di boncengan Qibbel ketika diajak bersepeda keliling kompleks oleh aku atau Ray. Pagi dan sore selalu menjadi saat yang dinantikan anak-anak karena mereka tahu sudah saatnya jalan-jalan dengan sepeda!

Siap bersepeda dengan ibu!
Siap bersepeda dengan ibu!

Rencana berikutnya: bersepeda dengan anak-anak ke Kebon Raya Bogor atau Car Free Day!

One Comment Add yours

  1. Ilham says:

    asyik bisa bersepedaaan bersama anak , apalagi di hari libur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *