Glamping di Herman Lantang Camp: Belajar dari Sang Legenda Gunung

Baru genap setahun berdiri, Herman Lantang Camp (HLC) yang terletak di pintu masuk kawasan Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat sudah ramai diperbincangkan di kalangan petualang sebagai salah satu destinasi wisata keluarga yang asyik. Bagi kamu yang ingin menikmati suasana alam tidur di tenda tanpa harus meninggalkan kenyamanan hidup urban seperti aliran listrik dan kasur empuk, tempat ini wajib didatangi.

Kebetulan sahabat masa kecilku, Errol Lantang, terjun langsung dalam mengelola bisnis keluarganya di HLC. Konon zaman balita dulu, orang tua kami masing-masing sering pinjam-meminjam gendongan bayi untuk naik gunung. Sang Ayah, yang kupanggil Om Herman atau Opa Herman untuk anak-anakku, sudah lama mengundang kami untuk menginap.

Baca juga: Gemerlap Bintang dan Auman Macan: Camping Keluarga di Taman Safari

Setelah kontak-kontakan dan booking tenda, kami sekeluarga pun berkunjung ke HLC sehari setelah Natal, ketika arus pengunjung liburan mulai sepi kembali. Bersamaan dengan momen hari raya tersebut, ternyata banyak anggota keluarga besar Lantang yang tengah sowan ke rumah sang Opa, sehingga kami pun ikut makan dan berapi unggun bersama.

Akses menuju HLC kurang lebih 30 kilometer dari pintu keluar tol Bogor, atau memakan biaya sekitar Rp25.000 menggunakan jasa layanan ojek online dari stasiun kereta Bogor. Saya sendiri memilih menggunakan mobil pribadi menuju HLC, melalui jalur alternatif sesuai saran aplikasi Waze yang sedikit memutar namun bebas macet, keluar tol Sentul Selatan via terminal Laladon dan tembus Ciomas, berjarak total kurang lebih 33 kilometer.

This slideshow requires JavaScript.

Jalanan menuju lokasi Curug Nangka sudah beraspal mulus dan kendaraan jenis city car pun aman tiba hingga tempat tujuan. Tips khusus bagi kamu yang ingin berkunjung: infokan kepada petugas di pos 1 dan pos 2 pintu masuk kawasan Curug Nangka bahwa kamu sudah melakukan reservasi menginap di Herman Lantang Camp, sehingga terbebas dari pembayaran tiket masuk. Lokasi parkir kendaraan bermotor cukup aman dan sangat dekat dengan tenda penginapan, cukup bayar seikhlasnya saja kepada petugas parkir ketika pulang.

Baca juga: Trekking di Campuhan Ubud

Melalui anak tangga dari parkiran hutan pinus, kami menyeberangi sungai kecil menggunakan jembatan bambu yang sedikit bergoyang hingga mencapai pintu masuk HLC. Om Herman langsung menyambut kedatangan kami dari rumah panggungnya yang ditumbuhi tanaman menjalar dan berhias lampu-lampu kecil yang berkerlap-kerlip.

Bersebelahan dengan rumah panggung tersebut, sebuah lapangan luas dengan api unggun besar di tengahnya tampak hangat dan mengundang. Deretan tenda dengan bilik-bilik kamar mandi privatnya berjejer rapi di seberang.

Sesuai saran Om Herman, kami memilih tenda β€˜Rinjani’ yang terletak di paling ujung dekat kaki gunung Salak, karena posisinya yang lebih privat dan adem pada siang hari. Tenda tersebut dibangun di atas panggung bambu beratap dan terlindungi dari angin dan hujan.

This slideshow requires JavaScript.

Di dalam tenda tersedia lemari kecil untuk menyimpan barang pribadi, colokan listrik untuk men-charge gadget, serta cetekan lampu untuk penerangan dalam dan luar tenda. Dua kasur raksasa tergelar di dalam tenda, dilengkapi bantal dan selimut tebal untuk menangkal suhu dingin yang bisa mencapai 14 derajat Celsius pada malam hari. Bagi pasangan orangtua dengan dua bocah balita yang tidurnya lasak, ukuran kasur yang tersedia lebih dari cukup untuk memberikan kualitas tidur yang nyaman bagi semuanya.

Di luar, setiap tenda mendapatkan bilik mandi dan toilet masing-masing, lengkap dengan keran dan pancuran shower beraliran air gunung yang segar. Area sekitar tenda juga ditumbuhi tanaman pucuk merah yang menandakan batas wilayah antar tenda yang saling bertetangga.

Lingkungan sekitar camp ternyata cukup menarik minat eksplorasi anak-anak. Hatta dan Sjahrir terlihat gembira berlari-larian bebas di lapangan rumput sembari menguji ketangkasan meniti gelondongan kayu yang mengelilingi area api unggun.

This slideshow requires JavaScript.

Bruno, si anjing penjaga yang ramah pun langsung akrab dengan anak-anak. Hewan kesayangan keluarga Lantang ini kerap mengikuti pengunjung camp yang trekking ke curug dan pernah beberapa kali membantu menghalau monyet-monyet jahil yang datang mengganggu.

Tiba saatnya makan, kami berkumpul untuk santap bersama di ruang makan terbuka di bagian belakang rumah panggung Om Herman. Tersedia pula free flow minuman sepanjang hari. Untuk makan malam, kami menikmati kuliner Sunda yang lezat beralaskan piring rotan dan daun pisang: nasi putih hangat, ikan dan ayam goreng, lalapan segar, tahu tempe goreng serta sambal mentah.

Baca juga: Southern Ridges Walk: Urban Trekking di Singapura

Dalam beberapa kesempatan Om Herman kerap bernostalgia dan bercerita tentang masa mudanya ketika gemar bertualang ke mana-mana, menerabas hutan-hutan hingga menggapai puncak gunung tertinggi di Indonesia. Di usianya yang menginjak 76 tahun ini, beliau masih bersemangat tinggi dan senang berkelakar, walaupun sudah menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan.

Serunya, si Om sangat terkoneksi dengan dunia modern digital, aktif ber-whatsapp ria dan bahkan sempat mengarahkan aku, Ray, Hatta, Sjahrir dan keponakan-keponakan Lantang untuk berjalan keluar masuk kompleks HLC sementara beliau merekam kami menggunakan kamera handphonenya. Kocak banget deh.

Namun sisi seriusnya sempat keluar ketika Om Herman berbagi kisah parentingnya bersama sang istri, Tante Joyce, dalam membesarkan anak-anaknya Errol dan Cernan. Berulang kali beliau berpesan tentang pentingnya membesarkan anak-anak dengan kehadiran aktif kedua ayah dan ibu.

Obrolan pun berlanjut dengan si Om yang berkomentar kagum tentang perkembangan teknologi desain gendongan bayi masa kini yang memungkinkan orangtua membawa anak-anaknya naik gunung dengan nyaman. Melihat dua gendongan ransel anak seri Deuter Kids Comfort dan Kelty Kids yang kami gunakan, Tante Joyce menimpali bahwa zaman dulu jarang ada kemewahan seperti itu, sehingga anak-anaknya sudah dibiasakan untuk berjalan sendiri naik gunung sedari kecil. Mendengar kisahnya, mataku langsung tertuju pada foto Cernan kecil di gunung Semeru yang terpampang di dinding rumah Om Herman dan Tante Joyce.

This slideshow requires JavaScript.

Malamnya, setelah si Sjahrir tertidur duluan, Hatta dan Ray ikut menyiapkan api unggun bersama Errol. Dengan antusias Hatta turut mencari kayu bakar dan bahan-bahan lainnya yang bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk menyalakan api unggun. Errol pun mendapat seorang fans baru yang gemar memperhatikan ketangkasannya menyerut ranting kayu dan menyulut api.

Keesokan paginya, kami memilih membungkus sebagian menu sarapan nasi goreng dan telur dadar untuk dibawa trekking ke curug, lalu memakan sisanya setelah kembali ke camp. Khusus untuk anak-anak tersedia nasi goreng versi tidak pedas.

Dari Herman Lantang Camp, jalan menuju curug sudah tidak jauh lagi. Dibandingkan homestay dan resor lainnya di kawasan ini, HLC memiliki akses yang paling dekat ke Curug Nangka, Curug Daun, dan Curug Kawung sehingga jika memutuskan untuk berangkat pagi-pagi kita masih bisa terhindar dari arus pengunjung yang ramai berdatangan pada siang harinya.

This slideshow requires JavaScript.

Dari ketiga curug di atas, Curug Daun direkomendasikan oleh keluarga Lantang sebagai yang paling ramah untuk anak kecil, dikarenakan kolam-kolam air alamnya yang tenang dan tidak terlalu dalam. Dari parkiran mobil di warung-warung yang berseberangan dengan kompleks HLC, perjalanan menanjak melalui hutan pinus, tangga semen, dan menyeberangi batu-batu sungai berlangsung kurang lebih 20 menit hingga mencapai Curug Daun. Fasilitas kamar mandi umum juga tersedia di sini untuk memudahkan pengunjung membersihkan diri usai mandi-mandi di curug.

Baca juga: The Menjangan: Surga Kecilku di Bali Barat

Aliran air yang tidak deras membuat kami lebih percaya diri mengajak anak-anak berendam di kolam alam Curug Daun. Berhubung airnya cukup dingin, Hatta dan Sjahrir lebih senang duduk-duduk di bebatuan daripada nyemplung. Tidak sampai 20 menit kemudian, bibir Sjahrir sudah mulai membiru, sehingga acara main air pun kami tuntaskan. Setelah berganti pakaian kering, kami pun duduk terdiam di atas bebatuan sambil menikmati hangatnya mentari pagi dan menyantap sarapan nasi bungkus.

This slideshow requires JavaScript.

Trekking menembus udara dingin di pegunungan mungkin terasa agak menantang bagi anak-anak, oleh karena itu khusus untuk perjalanan ini kami persiapkan baju dalam ekstra hangat dan sepatu gunung ukuran balita. Beruntung bagi orangtua urban masa kini, perlengkapan khusus seperti itu tidak perlu dibeli mahal-mahal, namun cukup disewa untuk keperluan travel seperti ini. Kami mendapatkan perlengkapan outdoor untuk anak-anak dari Tacanglala Baby, rental perlengkapan balita di Jakarta yang sudah menjadi langgananku sejak awal melahirkan Hatta.

Selain itu action camera GoPro 5 yang cocok dipakai untuk berkegiatan outdoor juga kami dapatkan di Tacanglala Baby. Video perjalanan kami, khususnya bagian trekking dan basah-basahannya, diambil menggunakan kamera tersebut.

Hari beranjak siang dan pengunjung mulai berduyun-duyun berdatangan ke curug. Untuk menghindari hingar bingar dan sampah yang berceceran, kami segera bergegas turun kembali ke camp. Setiba di HLC, pengunjung camp lainnya sudah mulai berkegiatan di luar tenda dan menikmati nasi goreng. Kami pun bergabung menyantap sarapan ronde kedua.

Kembali bercengkrama dengan keluarga Lantang dan bermain bersama Bruno, akhirnya anak-anak mulai terlihat mengantuk. Sebelum mereka jatuh tertidur, segera kami berberes barang-barang di tenda dan pamit pulang.

Kehangatan keluarga Om Herman dan Tante Joyce saat kunjungan kami ke HLC akan selalu terkenang. Keheningan malam dan sejuknya udara di kaki gunung Salak juga akan selalu memanggil kerinduan kami untuk kembali lagi.

Bersama Om Herman dan Bruno di HLC
Bersama Om Herman dan Bruno di HLC

 

Herman Lantang Camp

Taman Nasional Halimun Salak

Curug Nangka, Bogor

32 Comments Add yours

  1. Ahmad says:

    mantap juga ya om Herman ini, walau udah tua tapi masih bisa berkelana …. πŸ™‚

    1. Mel Allira says:

      Walau sudah 77 tahun, namun semangatnya masih semangat anak muda!

  2. tanaman hias says:

    Wah pasti seru banget ya, apalgi di Bogor, jadi pengen main kesana nih..

    1. Mel Allira says:

      Iya, deket kok dari Jakarta. Dan mobil bisa parkir tidak jauh dari lokasi campingnya

  3. Suroto -depok says:

    Wah Mantab om Herman ,idenya sgt luar biaasa gak salah Klu om Herman di juluki penakluk gunung …

    1. Mel Allira says:

      Si Om memang inspiratif!

  4. Liza says:

    Seru banget mbak. Kalo ke bogor harus kesana juga nih

    1. Mel Allira says:

      Yuk, main ke sini Mbak Liza πŸ™‚

  5. Hai mba
    Aku sering banget lihat di facebook tapi belum berkesempatan ikut. JAdi pengen coba kapan2. Makasih sudah berbagi mba

    1. Mel Allira says:

      Masama Mbak Alida, yuk main2 ke sana dengan anak2 πŸ™‚

  6. Saya baru lewat aja pas lagi jalan ke curug nangka. Kelihatan bagus sih campnya. Mudah-mudahan kapan-kapan bisa menginap di sana πŸ™‚

    1. Mel Allira says:

      Amin, semoga berkesempatan ke sana ya lain kali, Mbak πŸ™‚

  7. TS says:

    Seru ya, Mba. Ada list harganya ngga mba buat ngecamp?

    1. Mel Allira says:

      Hai… Harga per camp kapasitas 4 orang IDR 830ribu.. Katanya ada promo juga kalau pesan via apps traveloka

  8. nova violita says:

    77 thn…? terlihat lebih muda dari usia…
    sehat terus ya om..

    1. Mel Allira says:

      Amiin.. πŸ™‚

  9. Leli says:

    Wuah keren… tempatnya kayaknya recomended apalagi kalau bisa ketemu sama om herman nya langsung begitu ^^

    Selalu suka sama cerita keluarga kecil ini… senang liat cerita bisa liburan di alam , dan mengenalkan alam sejak dini ke anak anak.

    Semoga nanti bisa jadi orang tua segaul ini πŸ˜€

    1. Mel Allira says:

      Hihihi, Mbak Leli bisa aja.. makasi ya πŸ™‚

  10. Ila Rizky says:

    Asyik banget, mb. Menikmati api unggun di camp bareng keluarga. Jadi kangen liburan. Hehe

  11. Dian Ravi says:

    Aduh pas banget nih lagi mikir pengen piknik yang ga terlalu jauh dari ibukota tapi bingung kemana. Makasih infonya ya Mbak.

  12. April Hamsa says:

    Mbak, kalau glamping gtu kamar mandinya juga KM umum atau satu tenda dapat khusus satu kamar mandi ya? penasaran hehe

  13. Sri Mulyani says:

    Keren ya, fasilitasnya nyaman bawa balita

  14. Fanny f nila says:

    Hebat om herman ini.. Rahasianya apa ya ttp terlihat awet muda dan segar banget. Gendongan anaknya aku sukaaa mbak ^o^ .. Mahal ga sih itu? Kdg mikirnya gendongan bgitu lbh ringkes dibawa traveling drpd stroller..

  15. Om Herman ini keren banget ya, Mbak. Ah dirimu beruntun bisa ditemani beliau waktu liburan di sana.

  16. Tempat ini lg ngehits ya mba, bbrapa kali liat di medsos dan memang menarik bgt campnya.. Keren Om Herman Lantang, masih semangat dan bjiwa muda, aku seneng bgt liatnya.. πŸ˜€

  17. Si om keren, udah 77 th tapi semangat patut diacungi jempol.
    Btw asyik juga ya sesekali liburannya nge camp seperti ini. Seru!

  18. Mbak, aku terkesima sama ceritanya. Aku bisa membayangkan suasananya dan serunya. Dari kecil aku diajak trekking sama alm. Papaku. Aku jadi kangen ngecamp semasa kecil dulu :’)

  19. Helena says:

    Glampingnya serasa di rumah, eh tenda sendiri. Bisa ngobrol langsung dengan keluarga Om Herman Lantang, sang pemilik, membuat menginap di sini makin memorable. Btw air mandinya ada yang hangat? Kebayang suhu dingin, brr…

  20. Om Herman Lantang sekarang tinggalnya dekat camp ya Mbak Mel? Eh jadi penasaran pengen kemping ke sini juga ah. Semoga kalau pulang ke Bogor bisa sempat mampir ke sini.

  21. Wah asik dan seru banget, Mba, pingin ngerasain camping gaya modern

  22. Beh, nyaman banget kalau camping privatnya dapet fasilitas kayak itu mbak,… yang nggak kalah seru juga pemandangan alamnya hhheee

  23. Astaga, seru banget. Mau ke sini kalau misal dikasih kesempatan. Alam yang asyik! πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *