Ini Kisah Tiga Dara: Girls Just Wanna Have Fun!

Sebagai pecinta film, apalagi film yang mengangkat tema perempuan, saya antusias sekali menanti diluncurkannya film ’Ini Kisah Tiga Dara’ pada awal September 2016. Seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang, pembuatan film ini terinspirasi oleh ‘Tiga Dara’nya Usmar Ismail yang dibuat enam puluh tahun sebelum versi modern karya Nia Dinata ini muncul.

Awalnya, karena tertarik mendengar cerita dari ibu saya yang pada masa mudanya menonton ‘Tiga Dara’ dan berkomentar bahwa ceritanya sangat lucu dan menghibur, saya pun menonton film ‘Tiga Dara Hasil Restorasi 4K’ yang diputar di bioskop sepanjang bulan Agustus 2016. Film ini merupakan hasil dari restorasi gulungan film yang telah rusak parah karena tersimpan bertahun-tahun tanpa perawatan yang memadai. Mereka yang bertugas merestorasi dan mengkonversi film Tiga Dara ke dalam bentuk digital berhasil melakukan pekerjaan yang luar biasa, karena kualitas gambar dan suaranya masih terbilang bagus dan nyaman untuk ditonton. Untuk jalan ceritanya, memang sangat lucu dan menghibur, persis seperti rekomendasi ibuku sebelumnya.

Oke, untuk setting tahun 1950an, film ‘Tiga Dara’ mungkin terlihat modern pada masanya dengan tokoh-tokoh utama kakak-beradik Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya), dan Neni (Indriati Iskak) yang dikisahkan sering bernyanyi dan bermain musik, bergaul di pesta dansa, jalan-jalan bersama teman-temannya, berdandan modis, hingga mengendarai sepeda motor dan aktif bersepatu roda. Tiap karakter pun memiliki sifat masing-masing: Nunung si sulung yang pemalu dalam hal cinta dan kerap membuat sang Nenek gatal untuk mencomblanginya, Nana sang pemberani yang agresif mengejar pria dambaannya, serta Neni si bungsu yang jahil dan selalu berupaya menyelesaikan masalah kakak-kakaknya.

Indriati Iskak, Mieke Wijaya, dan Chitra Dewi pemeran Neni, Nana, dan Nunung di Tiga Dara (1956)
Indriati Iskak, Mieke Wijaya, dan Chitra Dewi pemeran Neni, Nana, dan Nunung di Tiga Dara (1956)

Bagiku, kisah film ‘Tiga Dara’ lumayan menarik, walaupun seringkali jalan ceritanya terlampau menyederhanakan sebuah masalah. Misalnya, cinta segitiga antara Nunung dan Nana dengan seorang pria pengendara motor Vespa bernama Toto (Rendra Karno) berjalan aneh karena pada awalnya sang lelaki kapok ditolak cintanya oleh Nunung kemudian berpacaran dengan Nana yang selalu mengejar-ngejarnya, namun akhirnya memilih juga untuk berhubungan serius dengan Nunung. Nana yang agresif justru pasrah ketika ditinggal Toto, sementara Nunung yang dari awal selalu mengalah untuk kebahagiaan adiknya sama pasrahnya ketika dipilih oleh Toto. Tidak diceritakan bagaimana hubungan Nunung dan Nana setelah perubahan konstelasi cinta segitiga tersebut, dan Toto pun digambarkan tidak terlalu mempedulikan akibat pilihannya terhadap hubungan kedua kakak-beradik yang dicintainya. Dinamika hubungan yang seharusnya terjadi antara karakter-karakter lainnya justru kurang digali lebih lanjut.

Hal ini jugalah yang sedikit banyak menjadi titik tolak Nia Dinata ketika memutuskan untuk membuat ‘Ini Kisah Tiga Dara’. Dalam wawancaranya dengan Rolling Stone Indonesia, Teh Nia mengungkapkan kegalauannya terhadap pencitraan karakter-karakter Nunung, Nana, dan Neni di ‘Tiga Dara’ yang sangat terdomestifikasi. Kehidupan ketiganya selalu seputar pencarian jodoh, baik mengejar asmara, dicarikan calon suami, atau tidak yakin dengan pilihan cintanya. Tidak jelas apa kegiatan mereka lainnya di luar hal tersebut, misalnya apa profesi mereka, tingkat pendidikan mereka, atau ambisi hidup lainnya.

Inilah yang membuatku semakin bersemangat untuk menonton film ‘Ini Kisah Tiga Dara’ karena tertarik untuk melihat bagaimana Nia Dinata menginterpretasikan pemahamannya akan isu-isu perempuan yang muncul pada tahun 1950an dan masih relevan dalam dalam konteks perempuan modern masa kini.

Jika dibandingkan dengan film pendahulunya, ‘Ini Kisah Tiga Dara’ mengangkat banyak tema serius yang lebih cocok untuk penonton dewasa. Jadi bijaklah untuk tidak membawa anak di bawah umur menontonnya.

Sejak adegan pertama film Ini Kisah Tiga Dara saya sudah sangat terpikat dengan karakter-karakternya, kostumnya, jalan ceritanya, setting lokasinya, hingga lagu-lagunya. Ketiga dara kakak-beradik Gendis, Ella, dan Bebe masing-masing mendapat porsi cerita yang seimbang dan unik.

Shanty Paredes, Tatyana Akman, dan Tara Basro pemeran Gendis, Bebe, dan Ella di Ini Kisah Tiga Dara (2016)
Shanty Paredes, Tatyana Akman, dan Tara Basro pemeran Gendis, Bebe, dan Ella di Ini Kisah Tiga Dara (2016)

Bebe (Tatyana Akman), si bungsu yang jenaka dan bandel mungkin adalah yang paling kontroversial di antara ketiga dara. Melalui karakter Bebe, perempuan modern ditampilkan sebagai sosok yang bebas, supel dan dermawan, mediator di antara pihak-pihak yang berseteru, serta berani mengambil resiko atas keputusan yang diambilnya sendiri.

Ella (Tara Basro), si anak tengah yang selalu berada di bawah bayang-bayang kakaknya mewakili perempuan masa kini yang penuh percaya diri, berjiwa wirausaha, dan ambisius dalam mengejar cinta.

Sementara si sulung Gendis (Shanty Paredes) adalah karakter yang paling kompleks. Walaupun ia berusaha serius menjalani profesinya sebagai koki utama di resor milik keluarganya, sebagai anak tertua yang lajang, ekspektasi baginya untuk segera menikah dan memberikan cicit bagi sang Oma (Titiek Puspa) sangat tinggi sehingga kerap mengganggu fokus profesionalismenya.

Sepanjang film, kegelisahan Gendis digambarkan melalui gugatannya terhadap norma-norma tradisional yang masih menganggap jodoh seorang perempuan harus ditentukan oleh orang-orang selain dirinya sendiri, baik dicomblangkan oleh keluarga atau ‘diperdagangkan’ antara calon suami dengan ayah kandungnya. Ia menantang anggapan umum yang mempermasalahkan status lajangnya di usianya yang telah menginjak kepala tiga. Ia pun mempertanyakan arti sebuah perkawinan jika hanya menghabiskan uang keluarga besar.

Titiek Puspa yang memerankan karakter sang Oma dari ketiga dara tampil cemerlang dan seringkali membuat penonton cekikan karena tingkah lakunya yang kocak. Sangat menarik melihat pewatakan seorang Nenek Modern melalui peran Titiek Puspa tersebut.

Namun bagi saya, chemistry antara karakter Gendis dan Yudha (Rio Dewanto) lah yang menjadi highlight dari film ini. Hubungannya terasa tulus sekali, dialog-dialog diantara keduanya pun cerdas dan menyentuh hati. Ada momen yang mirip-mirip dengan adegan Cinta dan Rangga ketika naik ke menara Punthuk Setumbu di film AADC 2, namun menurutku jauh lebih keren dan romantis, yaitu ketika Gendis dan Yudha naik ke ‘menara’ kayu reyot di tengah hutan bakau di Maumere. Sebenarnya hampir semua adegan yang melibatkan Yudha dan Gendis terasa real dan membumi, dari berpanas-panasan di hutan bakau dan pantai, blusukan ke pasar dan kuburan, hingga nongkrong di warung kopi beratap terpal di pelabuhan.

Salah satu yang paling saya suka dari film ini adalah bahwa tokoh-tokoh perempuannya berkulit eksotis sawo matang khas Indonesia, bertolak belakang dengan ‘pakem’ perfilman/persinetronan Indonesia di mana perempuan sering ditampilkan berkulit putih cerah. Ketiga dara dan sang Oma pun digambarkan sebagai sosok-sosok aktif yang tidak takut terbakar sinar matahari di luar ruangan.

Secara keseluruhan ‘Ini Kisah Tiga Dara’ berhasil menggambarkan sekelumit situasi dan pemikiran perempuan modern masa kini yang mandiri, mampu menentukan pilihannya sendiri, dan berani menyuarakan pendapatnya.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *