Gowes di Jalur Khusus Sepeda Kebun Raya Bogor

Ketika kuliah di Australia dulu, saya dan Ray senang bersepeda, di jalanan aspal mengelilingi daerah perkotaan maupun di jalur tanah menembus hutan-hutan pinus. Namun kini, dengan dua anak balita yang selalu minta diajak jalan-jalan, hobi bersepeda orangtuanya pun perlu diadaptasi untuk mengakomodir keinginan mereka.

Sejak pulang kembali ke Indonesia, sudah lama kami mencari rute sepeda yang paling aman dan nyaman untuk membawa anak-anak bersepeda. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya dipilihlah lokasi bersepeda di Kebun Raya Bogor karena arealnya yang luas dan hijau menyediakan rute jelajah yang cukup panjang dan stok udara bersih yang berlimpah.

Kebetulan sekali, ketika kami berkunjung ke sana di penghujung 2016, Kebun Raya Bogor tengah mempercantik diri untuk persiapan ulang tahunnya yang ke-200 sehingga fasilitas dan infrastruktur bagi pengunjung telah ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Pada waktu yang bersamaan, Pemkot Bogor juga meluncurkan jalur khusus bagi pesepeda yang mengitari bagian luar kompleks Istana Bogor dan Kebun Raya.

This slideshow requires JavaScript.

Sebagai perjalanan perdana membawa anak-anak bersepeda dengan jarak yang cukup jauh, selama dua hari berturut-turut kami menjajal rute Kebun Raya Bogor, bagian dalam serta rute lingkar luarnya.

Tentunya Hatta dan Sjahrir masih dibonceng di bagian belakang sepeda kami masing-masing. Untungnya sepeda gunung kami cukup kuat untuk dipasangi boncengan sepeda serta menampung beban tambahan 10 – 14 kilogram per anak.

Persiapan untuk pergi bersepeda bersama anak-anak memang sedikit lebih ribet dibandingkan jenis perjalanan lainnya. Berbekal bike rack, kedua sepeda dipasang di atas atap mobil kecil kami setelah sebelumnya dilepas roda depannya. Boncengan sepeda, ban sepeda depan, dan perlengkapan sepeda lainnya seperti pompa, ban dalam cadangan, dll disimpan di bagasi mobil.

This slideshow requires JavaScript.

Dengan muatan yang cukup berat, mobil tidak bisa berjalan terlalu cepat di jalan raya. Agar sepeda di atap tidak tersangkut, kami pun harus lebih awas dalam memilih jalur dan gerbang pintu tol yang tidak memasang portal rendah. Untungnya gerbang pintu masuk Kebun Raya Bogor cukup tinggi untuk dilewati mobil kami dengan aman.

Tiket masuk ke Kebun Raya Bogor dikenai biaya Rp5.000/sepeda, Rp30.000/mobil, dan Rp15.000/orang. Penyewaan sepeda jenis MTB juga bisa dilakukan di dalam kompleks Kebun Raya Bogor dengan kisaran harga Rp10.000 – Rp15.000 per jam, tergantung ukuran framenya. Sayangnya belum ada penyewaan sepeda dengan boncengan anak, oleh karena itu kami membawa sendiri sepeda dari rumah.

Setelah memarkir mobil di dalam Kebun Raya Bogor, sepeda pun kami turunkan dari atap, dan dipasangi ban serta boncengan sepeda. Botol minum yang terisi penuh dengan air putih disangkutkan di bottle cage frame sepeda, sementara snack ringan dibawa dalam tas ransel kecil. Agar tidak terlalu membebani bawaan kami, baju ganti untuk anak-anak dan makanan berat disimpan di dalam mobil. Rute perjalanan sepeda sengaja kami rencanakan agar tidak terlalu jauh dari lokasi parkir mobil.

This slideshow requires JavaScript.

Hari pertama, kami menjajal rute sepeda di dalam kompleks Kebun Raya Bogor. Dengan konturnya yang naik turun, jalanan aspal serta jalur bebatuan kami kitari berkali-kali. Menyusuri danau lotus di depan Istana Bogor, menyeberangi jembatan gantung merah, menembus areal pepohonan berusia ratusan tahun dengan akar dan sulur-sulur raksasanya, melipir ngadem di rumah anggrek, mengagumi koleksi kaktus di Taman Meksiko, hingga akhirnya istirahat makan dan menunggu Sjahrir tidur siang di lapangan luas dekat Grand Garden Cafe (dulunya Cafe Dedaunan).

Sementara itu, hari kedua dimulai dengan menjajal rute lingkar luar Kebun Raya Bogor. Jalur khusus sepeda dan pejalan kaki yang baru dibangun Pemkot Bogor pada akhir 2016 ini telah lama mencuri perhatian kami setiap kali berkendara melewati Lapangan Sempur menuju Botani Square. Jalurnya dibuat cukup lebar untuk mengakomodir dua sepeda yang saling berpapasan. Jalur khusus pejalan kakinya bahkan lebih luas lagi, cocok untuk jogging beriringan atau mengajarkan anak bersepeda.

Kami memulai rute lingkar luar dari pintu 3 Kebun Raya Bogor yang berseberangan dengan Lippo Plaza Pangrango (ex-gedung Bogor Internusa yang sempat terbengkalai). Perjalanan dilakukan searah jarum jam, mengarah ke selatan melewati Jalan Pajajaran kemudian berbelok ke barat di Tugu Kujang. Jalur ini awalnya cenderung datar, lalu mulai menurun tajam di Lawang Salapan.

This slideshow requires JavaScript.

Kalau ada turunan, pasti ada tanjakan. Setelah menyeberangi Sungai Ciliwung di jembatan Jalan Otto Iskandar Dinata, jalur mulai menanjak terjal hingga pertigaan Lawang Suryakencana dan Pintu Utama Kebun Raya Bogor. Di bagian inilah jalur sepeda berbaur ke jalan raya bersama lalu lintas kendaraan bermotor lainnya. Walaupun disediakan lajur khusus untuk sepeda yang berwarna cukup mencolok, namun sepeda motor dan mobil seringkali menggunakan badan jalan tersebut.

Bagiku, bagian jalur inilah yang paling menantang karena selain menanjak, kami harus tetap waspada dengan lalu lintas yang sibuk, serta mengatur nafas di tengah polusi udara yang bersumber dari knalpot mobil dan motor. Belum lagi membawa beban tambahan berupa bocah seberat 10 kilogram lebih di bagian belakang sepeda juga memberi kami tantangan ekstra.

This slideshow requires JavaScript.

Namun anak-anak antusias sekali selama bersepeda, mengoceh dan berkomentar dari tempat duduknya tentang pemandangan sekitar. Sjahrir bahkan sempat tertidur pulas di boncengannya ketika melintasi Jalan Ir. Haji Juanda, di seberang SMU 1 Bogor. Kami pun berhenti dulu di luar pagar Istana Bogor dan memberi makan wortel pada kawanan rusa sembari menunggu si bungsu bangun. Hatta senang sekali memberi makan rusa, hingga berikat-ikat wortel habis dibagikannya.

Lanjut menyusuri Jalan Jalak Harupat, jalur kembali menurun melewati Lapangan Sempur. Kawasan ini merupakan bagian favoritku sepanjang jalur lingkar luar Kebun Raya Bogor karena pemandangannya asri dan cantik, serta bisa ngebut kencang di trotoar. Menuju ke titik akhir perjalanan, jalan kembali menanjak, namun terasa lebih mudah dibandingkan jalur menanjak sebelumnya karena setidaknya kami terpisah dari lalu lintas kendaraan bermotor.

This slideshow requires JavaScript.

Secara keseluruhan jalur lingkar luar Kebun Raya Bogor merupakan terobosan baru yang menyenangkan bagi penggemar olahraga bersepeda, walaupun di beberapa bagian palang rintang yang dipasang untuk menghalangi mobil dan motor menerobos masuk ke jalur sepeda terasa menyulitkan dan terlampau sempit untuk dilalui oleh pesepeda sendiri. Jika harus memilih, bagiku lebih nyaman bersepeda di dalam Kebun Raya Bogor daripada melewati jalur di luar kompleks tersebut. Namun tentu jalur lingkar luar ini merupakan alternatif yang murah meriah untuk bersepeda atau berjalan kaki sembari menikmati udara segar yang berasal dari dalam Kebun Raya Bogor.

Bagi yang di Bogor, jangan lewatkan kesempatan menikmati fasilitas baru dari Pemkot Bogor ini, mumpung masih bagus dan terawat!

Oh iya, petualangan bersepeda kami mengelilingi Kebun Raya Bogor berhasil terekam dengan baik berkat bantuan kamera GoPro Hero 5 yang kecil, ringan, dan praktis dibawa-bawa untuk berkegiatan outdoor. Kami mendapatkan action cam keren ini dari Tacanglala Baby, rental peralatan outdoor dan perlengkapan travel khusus anak yang sudah lama menjadi langganan terpercayaku. Terimakasih Tacanglala!

7 Comments Add yours

  1. tesyasblog says:

    Wah aku pengin banget nih naik sepeda di KRB. Cuman Kiddos#2 belum mau aja belajar naik sepeda.

    Bte Mba Mel, Go Pro Hero 5 nya gimana reviewnya vs Go Pro Hero 4?

    1. Mel Allira says:

      Yuk Mbak Tesya, Kiddos#2 diajak belajar sepedaan di KRB aja, banyak lokasi yang aman untuk sepedaan di sana… atau dibonceng dulu mau ga? hehe… Aku belum pernah pakai GoPro Hero 4, tapi dari pengalamanku menggunakan GoPro Hero 5 kelebihannya dia waterproof ya, jadi tidak perlu pakai casing extra lagi dan asyik untuk diajak nyemplung, hehe… bisa lihat performa bawah airnya di vlog @RAYEmpatKembara yang Herman Lantang Camp, Mbak 🙂

  2. Ini kok seru banget ya mel..kangen ke bogor jadinya..haha..doakan daku segera bisa bersepeda di canberra sini juga yah..ga sabar sepedaan

    1. Mel Allira says:

      Iya Gen, nanti klo udah sepedaan di Canberra share ya pengalamannya… udah makin kece jalur-jalur mengelilingi danaunya pasti… dan ada playground guedeee namun sepi di Acton Parknya lho… don’t miss it!

  3. Ahmad says:

    asyik ya bisa bersepedaan di kebun ini

  4. Ratu SYA says:

    seru yaa mbak bisa gowes bareng keluarga 😀

    1. Mel Allira says:

      Iya Mbak Ratu, seru banget… yuk gowes bareng 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *