Kembali Ngantor setelah Empat Tahun menjadi IRT

Beberapa minggu terakhir ini saya mulai kerja kantoran 9-to-5 lagi di daerah Jakarta Selatan setelah sebelumnya mengurus rumah tangga selama kurang lebih empat tahun. Sejak hamil anak pertama, dan kedua, hingga adiknya berusia satu tahun, saya memang memutuskan untuk di rumah bersama anak-anak. Lalu mengapa harus kembali bekerja lagi?

Tidak ada satu alasan utama yang mendorong saya untuk bekerja kembali. Memang sejak sebelum mempunyai anak, saya dan suami memang sudah sepakat bahwa kami berdua harus terus merintis karir. Memiliki anak bukan halangan untuk terus berkarya, baik itu di kantor maupun di rumah.

Mencari Nafkah dari Rumah

Agar CV tidak terlampau ‘kosong’ terlalu lama, awalnya saya masih menerima pekerjaan-pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan dari rumah di waktu senggang ketika anak sedang tidur. Tentu ini artinya waktu tidur saya semakin sedikit, karena baru bisa fokus mengerjakan tugas di kala malam. Namun saya tetap senang menjalankannya karena kerja kecil-kecilan seperti ini lumayan mendukung untuk jajan-jajan cantik ibunya. Hehe… Bukannya suami tidak mencukupi kebutuhan saya lho, namun ada kepuasan tersendiri bagi saya ketika bisa menghasilkan (dan menghabiskan) uang sendiri. Hahaha…

Terkadang jika sedang dikejar deadline kerja yang ketat, saya menggunakan bantuan pembantu (kalau kebetulan ada) atau menitipkan anak-anak ke daycare selama beberapa jam. Namun ini agak jarang terjadi sih. Saya selalu usahakan untuk membagi waktu yang masuk akal antara mengurus rumah tangga dan pekerjaan. Dan sejauh ini belum pernah keteteran.

Setelah melahirkan anak kedua, saya mulai mengurangi porsi tawaran kerja freelance, dan mulai menjalankan bisnis kecil-kecilan bersama teman-teman, juga bisnis individu. Semuanya diatur agar tidak terlalu menyita banyak waktuku ketika mengurus anak-anak, khususnya si bungsu yang masih butuh perhatian lebih dalam usia setahun pertamanya.

Mulai Mencari Kerja Kantoran

Setelah si bungsu menginjak usia setahun, suami sudah mulai bertanya “Kapan kamu mau mulai kerja lagi?” Momennya dirasa tepat untuk melanjutkan karir lagi, apalagi setelah menjalani istirahat yang cukup lama. Di luar negeri long career break bagi perempuan (maupun laki-laki) untuk menjalani masa kehamilan, melahirkan dan membesarkan anak memang sesuatu yang lazim. Namun jeda kosong dengan durasi yang agak lama tersebut cenderung dianggap masa pengangguran yang non-produktif di Indonesia.

Jujur saja, saya sempat merasa kurang percaya diri dengan CV saya yang ‘bolong’ selama setahun terakhir, walaupun ada beberapa pekerjaan freelance dan publikasi tulisan yang terbit dalam masa tersebut. Saya juga punya kekhawatiran sudah kurang ‘nyambung’ lagi dengan dunia kerja, kurang update dengan perkembangan yang relevan dengan dunia kerja, walaupun saya tetap mengikuti berita di koran maupun internet. Namun suami terus mendukung agar saya mulai mencari-cari info lowongan dan memberanikan diri mengirim surat lamaran.

Dengan latar belakang pendidikan di bidang sosial dan lingkungan, serta pengalaman kerja di bidang riset, saya mencari info lowongan di lembaga-lembaga yang berkecimpung dalam isu lingkungan. Selain membuka aneka laman dan mengikuti milis lowongan pekerjaan, saya juga menggunakan jaringan pribadi untuk menanyakan kesempatan kerja yang mungkin ada. Saya mengontak teman-teman dekat, keluarga, dosen, rekan kerja, dan atasan saya di kantor lama.

Beberapa panggilan wawancara pun berdatangan, dan betapa terkejutnya saya ketika ternyata tidak ada yang mempermasalahkan CV saya yang ‘bolong-bolong’ itu. Saya pun bersyukur sekali kemudian diberikan kesempatan untuk memulai kerja di sebuah lembaga yang sejak awal kujejakkan kaki di gedung kantornya sudah bikin kerasan banget. Semoga memang jodohnya lama di sini.

Persiapan Meninggalkan Anak Kerja

Ketika wawancara kerja, sejak awal saya sudah minta agar diberi waktu kurang lebih tiga hingga empat minggu sebelum memulai kerja. Walaupun sebenarnya saya bisa langsung mulai kerja, namun persiapan yang perlu dilakukan sebelum meninggalkan anak-anak kerja kantoran cukup banyak sehingga dibutuhkan waktu lebih untuk memastikan semuanya lengkap.

Berhubung tidak ada anggota keluarga yang bisa dititipkan anak-anak ketika kami bekerja, maka hal pertama yang saya dan suami lakukan adalah langsung mencari Mbak untuk menjaga anak-anak. Tidak tanggung-tanggung, kami mencari dua Mbak sekaligus agar anak-anak bisa ditangani dengan lebih baik, rumah pun ikut dibersihkan. Setelah mendapat Mbak, mereka pun harus dilatih untuk mengenali karakter, kebiasaan, dan jadwal sehari-hari anak-anak. Anak-anak pun dibiasakan untuk beraktivitas bersama para Mbak.

Memasang CCTV di rumah untuk memantau anak-anak bersama Mbaknya dari HP sangat membantu bagi orangtua bekerja sepertiku
Memasang CCTV di rumah untuk memantau anak-anak bersama Mbaknya dari HP sangat membantu bagi orangtua bekerja sepertiku

Kami juga memasang CCTV di rumah yang bisa diakses dari HP di manapun kami berada. Dengan demikian, aktivitas anak-anak bisa terpantau juga oleh orangtuanya walaupun kami tidak secara fisik berada di rumah. Biaya pemasangan CCTV saat ini juga sangat terjangkau, dan hanya perlu disambungkan dengan koneksi wi-fi yang sudah ada di rumah. Bagusnya lagi, komunikasi dua arah bisa terjalin antara orang rumah maupun kami yang di luar rumah melalui perangkat CCTV tersebut, karena adanya microphone dan speaker yang terintegrasi pada alatnya.

Hal penting lainnya yang saya lakukan sebelum memulai kerja adalah mensurvei beberapa fasilitas daycare yang berlokasi tidak jauh dari area rumah. Mengapa? Karena tidak ada jaminan para Mbak akan bertahan lama bekerja di rumah, maka selalu perlu ada backup plan untuk menitipkan anak-anak ketika tidak ada pengasuh.

Rutinitas baru sejak mulai kerja lagi: menyiapkan menu makan anak-anak untuk seminggu ke depan
Rutinitas baru sejak mulai kerja lagi: menyiapkan menu makan anak-anak untuk seminggu ke depan

Saya juga sering mengajak anak-anak ngobrol sejak beberapa minggu sebelum memulai kerja dan menjelaskan pada mereka bahwa saya akan memulai kerja kantoran dan tidak akan selalu berada di rumah seperti biasanya. Si bungsu yang belum bisa bicara belum bisa banyak protes, namun Hatta, si kakak kerap kali melarangku untuk bekerja. Lambat laun, setelah dijelaskan berkali-kali, ia pun mulai bisa menerima perubahan yang akan terjadi ketika ibunya mulai bekerja.

Memulai Rutinitas Kantor

Minggu-minggu pertama memulai pekerjaan baru menjadi lembaran hidup yang menarik sekaligus menantang bagiku. Kembali harus berdandan dan memperbarui koleksi baju dan sepatu kerja, berkenalan dengan banyak pihak di dalam maupun dari luar instansi kerja, membangun kembali mindset dan mental kerja yang profesional, membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, semuanya campur aduk menjadi satu.

Kebetulan pekerjaan ini juga sering mengharuskan saya untuk bertugas ke luar kota selama beberapa hari setiap bulannya. Hal ini pun menjadi tantangan tersendiri bagiku dan keluarga. Anak-anak belajar tidur malam tanpa ibunya, suami pun mulai lebih intens father-and-son-bonding dengan para bocah. Komunikasi tetap diusahakan berjalan setiap harinya melalui telepon dengan anak-anak di sela-sela aktivitas pekerjaanku.

Melihat langsung proses roasting biji kopi di tingkat petani di Lampung
Melihat langsung proses roasting biji kopi di tingkat petani di Lampung

Saya pun belajar banyak sekali dari pekerjaan ini. Berkecimpung dalam sektor kopi dan kakao di Indonesia memberikan banyak kesempatan bagiku untuk mempelajari teknik budidaya, panen, proses produksi, hingga rantai pemasaran kedua komoditas tersebut. Saya bersyukur sekali bisa terlibat dalam sekolah lapang budidaya kopi dan kakao, mendengar langsung pengalaman petani-petani dari berbagai pelosok nusantara, melihat proses pengolahan biji kakao sampai menjadi batangan coklat yang siap dimakan, menikmati harumnya bunga kopi di perkebunan, melihat proses roasting biji kopi, hingga belajar langsung teknik cupping dan brewing biji-biji kopi Indonesia dengan kualitas internasional.

Mengikuti sekolah lapang budidaya kakao di Jember, Jawa Timur
Mengikuti sekolah lapang budidaya kakao di Jember, Jawa Timur

Ada yang bertanya: kalau sudah bekerja dari rumah, mengapa harus kerja kantoran? Ya, tiap orang pasti menjalani situasi yang unik di keluarganya masing-masing, dan belum tentu sebuah pilihan yang diambil oleh seseorang cocok dijalankan oleh yang lainnya. Kebetulan, keluarga saya mendukung agar saya bekerja kembali setelah anak-anak dirasa sudah cukup besar.

Ada juga seorang teman yang berpendapat bahwa waktu kerja di kantor berfungsi sebagai ‘me time’ untuk seorang ibu. Perkataannya mungkin ada benarnya juga. Setelah saya merasakan langsung bedanya pengalaman bekerja dari rumah dibandingkan kerja kantoran, saya merasa lebih bisa fokus (fokus pada pekerjaan dan fokus pada keluarga) jika bekerja di luar rumah. Ketika bekerja dari rumah, pekerjaan dan urusan keluarga seringkali campur aduk, dan saya cenderung lebih mudah stress karena kedua urusan tersebut rasanya tidak beres-beres. Ketika kerja kantoran, ada pembedaan yang cukup jelas antara waktu kerja dan waktu untuk keluarga. Saya pun menjadi lebih tenang menjalani keduanya. Efeknya kepada anak-anak juga lebih positif, karena saya menjadi lebih happy ketika pulang ke rumah seusai bekerja.

Salah satu hal yang menyenangkan dari pekerjaan ini adalah saya bisa sedikit-sedikit memperkenalkan kepada anak-anak tentang apa yang dilakukan ibunya ketika bekerja. Sepulang dari lapangan saya pernah membawa pulang buah kakao, dan anak-anak pun kegirangan memegang, mencicipi, hingga belajar mengolahnya menjadi bubuk kakao yang bisa dicampur dengan susu untuk diminum. Suami pun senang selalu kubawakan biji kopi segar setiap pulang dari biz trip.

This slideshow requires JavaScript.

Tentunya saya harus siap dengan segala resiko sebagai ibu pekerja seperti misalnya Mbak yang tiba-tiba minta pulang kampung, memersiapkan cadangan biaya yang lebih besar untuk mencari pembantu lagi atau memasukkan anak ke daycare, kangen anak, senewen mikirin anak yang sakit, dll. dst.

Namun saat ini, kembali bekerja kantoran menjadi pilihan yang pas bagiku dan keluarga. Mungkin karena saat ini kami cukup beruntung memiliki Mbak yang bisa menjaga anak-anak, keluarga besar yang sesekali bisa mengawasi aktivitas mereka, serta lingkungan kantor yang fleksibel dan mendukung kebutuhan seorang ibu dengan anak-anak kecil. Tentu saya juga memilih-milih pekerjaan, kalau ternyata tidak sebanding manfaatnya, saya pasti memilih untuk tetap di rumah saja bersama anak-anak.

11 Comments Add yours

  1. Hastira says:

    wah , memang bagi wanita bekerja itu untuk aktualisasi diri ya mbak. tapi bukan berarti ibu bekerja gak dekat dg anak. diriku sellau dekat dengan anak2 dan malah ankku mandiri karena sering ditinggal aku kerja. Kebalikan dari mbak, setelah anak dewasa dan merantau , aku malah berhenti kerja untuk menikmati hidup padahal belum pensiun.

    1. Mel Allira says:

      Setuju Mbak Hastira! Terimakasih sudah sharing kisahnya juga ya 🙂

  2. Saya juga ibu bekerja sepakat dengan yang mba sampaikan. Btw saya salfok sama cctv-nya baru tau bisa connect ke HP.
    Semoga mba dan keluarga sehat selalu dan ttp menjadi Ibu yang sukses kerjaan n keluarga
    Salam kenal Mba ^^

    1. Mel Allira says:

      Terimakasih untuk doanya Mbak Herva… Iya, CCTV zaman sekarang rata-rata udah bisa terhubung dengan HP 🙂

  3. citra says:

    Wow 🙂 luar biasa mb, salut sama perempuan2 aktif dan eksis baik di luar maupun di rumah

    1. Mel Allira says:

      Terimakasih Mbak Citra! 🙂

  4. Clara Panjaitan says:

    Sukses ya mel sebagai ibu pekerja sekarang. Benar mendapatkan ART yg baik itu sgt mjd kendala ibu pekerja.

    1. Mel Allira says:

      Terimakasih banyak ya, Lala! 🙂

  5. Menginspirasi sekali mbak postingan mu ini, aduh aku jadi tau cctv yang bisa di akses lewat HP, itu bisa real time kan mbak? ternyata gambarnya lumayan jelas ya :D. Sama itu ya ampun cemilan-cemilannya udah disiapin :(. Aku gak pernah nyiapin sedetail itu buat Hana. Anyway baru ngeh kalau nama anak-anaknya mbak Mel nama pahlawan semua semua ya, semoga kelak menjadi orang hebat seperti pahlawan tersebut.

    1. Mel Allira says:

      Iya Mbak Wuri, cctvnya bisa diakses real time kok, bisa diputar ulang untuk melihat rekaman beberapa jam sebelumnya juga. Kualitas gambarnya oke, bisa dipasang sendiri, dan cukup memanfaatkan jaringan wi-fi yang sudah ada di rumah. Itu cemilan hanya bertahan beberapa minggu saja, setelah Mbaknya udah belajar menyiapkan sendiri, aku serahkan tugasnya ke dia, hihi… Terimakasih ya! Amin untuk doanya 🙂

  6. jempolkaki says:

    wah keren kalau bisa seperti itu..

    ternyata cctv bisa di intregasikan dengan spekaer baru tahu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *