Membiasakan Anak Duduk di Carseat

Sebagai penikmat roadtrip menggunakan mobil pribadi, penting bagiku agar anak-anak bisa duduk manis di mobil dan tidak mengganggu konsentrasi pengemudi. Untuk memastikan hal tersebut, peranan carseat sangatlah krusial.

Pengalaman memperkenalkan carseat pada kedua anakku penuh dengan trial and error—kami sempat berganti-ganti jenis carseat dan posisi pemasangannya di dalam mobil.

Ketika anak pertamaku Hatta lahir, kami membelikannya carseat Peg Perego Viaggio 1 yang permukaan joknya terbuat dari bahan semi kulit yang terlihat classy dan mudah dibersihkan. Kami langsung jatuh cinta ketika melihat dan memegangnya dan yakin carseat tersebut akan awet hingga bertahun-tahun ke depan.

Namun, walaupun carseat pertama yang kami beli itu bisa dinaik-turunkan posisi duduknya dan sudah diganjal bantalan empuk, si Hatta tetap kurang nyaman duduk di dalamnya dan sering rewel di jalan.  Memang sebenarnya si Viaggio 1 diperuntukkan untuk anak usia 1 hingga 4 tahun, dengan kisaran berat badan 9 – 18 kilogram–bukan untuk bayi baru lahir.

Ya, kuakui sebagai orangtua baru yang minim pengalaman, kami terlalu menyepelekan pentingnya fungsi baby capsule/infant carseat yang didesain khusus untuk bayi dari usia 0 – 12 bulan. Kami pikir berhubung infant carseat masa pakainya sangat pendek (hanya beberapa bulan saja, tergantung cepatnya pertumbuhan bayi), maka tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk membelinya. Jangan ditiru ya!

Baru setelah usianya menginjak 1 tahun dan ukuran tubuhnya sudah lebih besar, Hatta menjadi lebih betah dan tidak protes ketika harus duduk di carseatnya. Hingga saat ini, di usianya yang tiga tahun, Hatta masih betah duduk di carseatnya, dan mulai belajar untuk memasang seatbeltnya sendiri.

Hatta di carseat sendirian
Jok belakang mobil masih lowong ketika Hatta duduk sendirian di carseatnya

Ketika adiknya, Sjahrir lahir, kami sadar bahwa pemakaian infant carseat sejak awal menjadi penting untuk membuat si kecil nyaman menggunakan carseat ke depannya. Sjahrir pun dibelikan infant carseat merk Kiddy Nest yang kebetulan sedang promo di sebuah pameran barang bayi. Fiturnya standar seperti infant carseat pada umumnya: bayi bisa beristirahat dalam posisi tiduran, bebotnya ringan (2,7 kg tanpa muatan) dan bentuknya seperti keranjang belanja yang bisa dijinjing sehingga memudahkan orangtua untuk memasukkan dan mengeluarkan bayi dari dalam mobil tanpa harus melepaskannya dari carseat, serta ada opsi tambahan bisa dipasangkan ke stroller yang memiliki adaptor sejenis.

Sjahrir dibuai di dalam baby capsulenya sementara sang kakak bermain
Karena ringan dan mudah dibawa ke mana-mana, bayi bisa tetap anteng dalam infant carseat pada berbagai kesempatan. Di foto ini Sjahrir sedang bobo-bobo santai di dalam infant carseatnya sementara sang kakak bermain di halaman.
Baby capsule ditaruh di atas troli belanja
Sjahrir tidur di dalam infant carseatnya ketika dibawa belanja bulanan, sementara Hatta asyik main mobil-mobilan di bagian bawah troli belanja.

Jika anak nyaman di carseat, pasti anteng di jalan kan? Hmmm… Ternyata tidak juga. Faktor penting berikutnya yang menentukan sukses atau tidaknya seorang anak bisa bertahan duduk manis di dalam carseat adalah konsistensi orangtuanya. Awal-awal diperkenalkan dengan carseat, si kecil biasanya kurang betah, apalagi kalau sebelumnya sudah terbiasa digendong atau dibebaskan hilir-mudik dari kursi depan ke jok belakang mobil.

Masa adaptasi ini berlangsung beberapa bulan, dan seringkali menguji kesabaran orangtuanya. Seringkali aku dan Ray harus tega membiarkan Hatta dan Sjahrir menangis sepanjang perjalanan karena protes minta dikeluarkan dari carseat. Beda anak, beda karakter juga. Hatta biasanya menangis hingga tertidur di carseatnya, sementara Sjahrir sepertinya lebih keras kepala dan kuat menangis dari awal hingga akhir perjalanan.

Tega banget jadi orangtua! Anak kok diiket di kursi? Mungkin itu yang akan muncul dalam pikiran sebagian besar orang ketika mendengar perlakuan kami terhadap Hatta dan Sjahrir. Tapi aku dan Ray memang sudah sepakat bahwa demi keselamatan bersama, anak-anak harus didisiplinkan duduk di carseat menggunakan seatbelt. Repot kan kalau sedang fokus nyetir, tiba-tiba si kecil loncat-loncatan ke pangkuan pengemudi, neken-neken tombol di dashboard mobil, atau menghalangi pandangan ke kaca spion. Apalagi kalau tiba-tiba mobilnya rem mendadak, si kecil bisa terbanting badannya dan kesakitan, atau mungkin luka yang lebih serius. Aduh ga berani ngebayanginnya deh.

Tentu ada kalanya juga kami mengalah, membiarkan anak-anak keluar dari carseat sebentar. Biasanya ini kami lakukan jika mereka tampak basah kuyup karena berkeringat akibat menangis berkepanjangan. Atau karena si kecil tampak haus minta nenen. Namun khusus untuk perjalanan jauh yang memakan waktu lebih dari dua jam, kami usahakan berhenti setiap jamnya untuk memberikan mereka kesempatan gerak badan sebelum melanjutkan perjalanan lagi.

carseat dan baby capsule di jok belakang mobil
Hatta di dalam toddler carseatnya dan Sjahrir di dalam infant carseatnya. Jok belakang mobil terasa lebih sempit sekarang. Orang ketiga yang duduk bersama mereka hanya diberikan space sedikit.

Setelah ulangtahun mereka yang pertama, akhirnya Hatta dan Sjahrir bisa menerima aturan bahwa ketika bepergian menggunakan mobil mereka harus duduk di carseat. Tentu aturan ini tidak bisa diberlakukan jika anak-anak bepergian menggunakan taksi atau mobil orang lain. Namun karena kami lebih sering berkendara dengan mobil sendiri, keduanya tetap bisa disiplin duduk di carseat.

Pemasangan carseat di jok belakang mobil—apalagi setelah ada dua anak—juga mengalami beberapa kali perombakan. Awalnya carseat Hatta dipasang persis di belakang kursi pengemudi. Setahun pertama aku duduk di belakang menemani Hatta supaya mudah mengeluarkannya jika ingin menyusui. Pukpuk Ray yang terpaksa duduk sendirian di depan. Setelah Hatta mulai minum susu UHT dan makan makanan padat, akupun pindah duduk di depan, di sebelah Ray yang mengemudikan mobil.

bocah berbagi kismis di jok belakang
Duo bocah berbagi kismis di jok belakang

Ketika Sjahrir lahir, awalnya kami memasang infant carseatnya di bagian tengah jok belakang mobil, persis di sebelah carseat Hatta. Sesuai standar keamanan berkendara, enam bulan pertama infant carseatnya dipasang menghadap ke belakang. Setelah Sjahrir mulai tertarik melihat-lihat sekitarnya, carseatnya pun dibalik menghadap ke depan. Lama-lama ia mulai kebesaran untuk infant carseatnya sehingga diganti dengan carseat toddler Cocolatte Omni Guard.

Kini keduanya menggunakan carseat biasa untuk berat badan dengan rentang 9-18 kg. Hatta meminta agar posisi carseat mereka ditukar: kakaknya ingin duduk di tengah, adiknya di belakang kursi pengemudi. Aku tetap duduk di kursi penumpang depan, menemani Ray menyetir.

Kedua bocah sekarang sudah terbiasa duduk bersebelahan di jok belakang mobil. Kalau Sjahrir lapar, aku masih bisa menyuapinya dari kursi depan (sengaja kugunakan sendok bergagang panjang untuk mempermudah pemberian makanan). Sementara itu Hatta sudah bisa makan sendiri di carseatnya.

Dalam satu tahun lagi, Hatta sudah tidak akan muat di carseatnya yang sekarang. Sengaja sudah kusiapkan booster seat baginya yang diperuntukkan bagi anak yang lebih besar dengan tinggi tubuh minimal 95 cm. Dengan begitu kuharap proses perpindahannya dari carseat ke kursi jok ber-seatbelt biasa bisa lebih mulus nantinya. Sjahrir pun demikian.

Oiya, berikut ada info tambahan mengenai carseat-carseat yang pernah dipakai oleh para bocah nih… Selain yang sudah dibahas di atas, fitur lain yang ingin kubandingkan diantara ketiganya adalah dari segi keamanan dan kenyamanan si kecil ketika duduk di dalamnya, serta kepraktisan dalam hal membersihkan carseat ketika kotor.

Dari segi keamanan, ketiga carseat memiliki fitur side-impact protection atau bagian pelindung ekstra di kanan-kiri kepala anak yang berfungsi melindunginya dari goyangan mobil ketika bergerak atau bantingan keras jika mobil terlibat dalam kecelakaan. Pada Kiddy Nest dan Omni Guard, side-impact protectionnya terbuat dari busa dan kain lembut, sementara Viaggio 1 terbuat dari lapisan busa dan styrofoam yang kokoh. Dari segi keamanan ini, menurutku Viaggio 1 lebih unggul dibandingkan yang lainnya, apalagi side-impact protectionnya bisa diubah-ubah posisinya mengikuti tahapan pertumbuhan anak.

Baik Kiddy Nest, Omni Guard, maupun Viaggio 1 masing-masing dilengkapi dengan boosterpad (alas duduk) dan chestpad (dua bantalan yang dipasang di tali yang melintang di depan dada) untuk membuat si kecil lebih nyaman berkendara. Pada ketiganya, boosterpad bisa dilepas jika anak sudah semakin besar. Bedanya, chestpad di Kiddy Nest dan Omni Guard bisa dilepas pasang (untuk dicuci atau jika si kecil merasa lebih nyaman tidak menggunakannya), namun di Viaggio 1 si chestpad ini terpasang secara permanen. Sebenarnya chestpad berfungsi untuk melindungi kulit di bagian leher anak supaya tidak lecet tergesek tali seatbelt, namun anak-anakku ternyata lebih suka jika chestpadnya dilepas.

Lapisan jok Kiddy Nest dan Omni Guard terbuat dari kain tipis yang mudah dilepas untuk dicuci jika kotor. Bahannya mudah menyerap air dan lebih cepat bau. Sementara jok Viaggio 1 terdiri atas lapisan busa tebal dan semi kulit sehingga tidak bisa dicuci biasa karena takut bisa merusak bagian semi kulitnya. Untungnya, bahan jok Viaggio 1 ini mudah sekali dibersihkan hanya dengan menggunakan sikat kecil (pada bagian busa tebalnya) atau dilap dengan kain lembab (pada bagian semi kulitnya). Bahannya cepat kering dan tidak mudah bau.

Ya, tentunya tiap carseat punya kelebihan dan kekurangan masing-masing–baik dari segi harga dan kualitas kenyamanannya. Tapi yang lebih penting sebenarnya adalah kekonsistenan orangtua mengajarkan dan membiasakan anaknya untuk duduk di carseat demi keselamatan berkendara bersama-sama.

Apakah kamu memiliki tips lainnya untuk membiasakan anak duduk di carseat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *