Mencari Stroller yang Cocok untuk Travelling

Bagi orangtua yang doyan travel, tentunya pencarian stroller yang paling pas untuk mobilitas tinggi menjadi salah satu agenda utama dalam persiapan perjalanan.

Beberapa kriteria penting yang harus dipenuhi oleh sebuah stroller travel adalah ringkas, ringan, mudah/cepat dilipat, dan tentunya nyaman bagi si kecil. Satu kriteria tambahan dariku adalah ketangguhan si stroller menghadapi setiap kondisi jalan. Namun kenyataannya sulit sekali menemukan satu stroller yang mampu memenuhi semua kriteria.

Dan rupanya tidak semua medan perjalanan cocok untuk dilewati stroller yang paling ringan sekalipun. Untuk travel di Indonesia yang infrastruktur publiknya masih belum konsisten mengakomodir kebutuhan kelompok berkebutuhan khusus seperti pengguna stroller atau kursi roda, pemakaian stroller masih terbatas untuk kawasan-kawasan kota besar, mal dan resor–itupun tidak berlaku sama untuk semuanya.

Misalnya di Bali yang terkenal sebagai salah satu tujuan wisata bertaraf internasional. Kawasan Nusa Dua cocok sekali untuk membawa anak berkeliling menggunakan stroller karena trotoar jalannya dibuat landai untuk memudahkan akses kereta bayi. Namun kawasan Ubud terasa sangat menyiksa bagi orangtua berstroller karena jalanannya yang sempit, trotoarnya yang putus nyambung bahkan kadang-kadang menghilang sama sekali. Dalam perjalanan kami ke Ubud, pada akhirnya kami memutuskan menyewa gendongan ransel untuk membawa si kecil ke mana-mana.

Sejauh ini aku baru bisa memberikan review untuk dua jenis stroller yang telah kuuji ke-‘tahan banting’-annya dalam sebuah perjalanan. Keduanya memiliki plus minus masing-masing.

iSport

Pertama adalah iSport, stroller super ringkas dan ringan (di bawah 5 kg) yang sempat populer digunakan banyak orangtua urban yang gemar travel jauh maupun sekedar jalan-jalan ke mal. Mudah dibuka dan dilipat, namun tetap harus menggunakan dua tangan untuk melakukannya. Ukurannya kecil dan tidak memakan banyak tempat di bagasi maupun kabin pesawat.

Minusnya adalah iSport tidak didesain untuk membawa beban banyak selain anak yang duduk di dalamnya, dalam artian tidak kuat jika dicantelkan tas ibunya atau kantong belanjaan lainnya. Pegangannya tipis dan ringkih, dan tidak ada kantong tempat penyimpanan barang di bagian bawah tempat duduk. Jika digantungkan tas di pegangan tangannya, maka ketika si anak turun dari tempat duduknya, kemungkinan besar iSport akan jatuh ke belakang.

Sayangnya lagi, si iSport ini tidak nyaman bagi si kecil. Hal ini bisa dilihat dari posisi duduk anak yang cenderung terbungkuk dan bahkan agak tercekik ketika tertidur. Ruang duduknya sempit dan senderan kursi tidak bisa di-recline. Stroller ini lebih cocok untuk perjalanan berjarak pendek, dan bukan yang memakan waktu lama sehingga memasuki jam tidur si kecil.

Jalan-jalan singkat keliling mal atau car free day cocok untuk stroller yang satu ini. Perjalanan yang agak jauh seperti ketika aku dan Hatta menyusuri Southern Ridges Walk di Singapura rupanya kurang nyaman, khususnya ketika ia terpaksa tidur terduduk karena kelelahan di tengah perjalanan. Namun demikian infrastruktur publik di Singapura yang bagus sangat memungkinkan bagi pengguna stroller bepergian jauh dengan anaknya. Lain kali kalau ke sana harus membawa stroller travel yang lebih nyaman.

iSport di CFD Jakarta
iSport di CFD Jakarta
iSport di Singapura
iSport di Singapura

Stroller iSport cocok untuk perjalanan pendek seperti car free day (atas), namun kurang nyaman untuk perjalanan jauh berkeliling Singapura seharian (bawah)

Coco Latte TRIP

Stroller kedua adalah Coco Latte TRIP yang juga lumayan populer di kalangan orangtua urban. Belum lama ini telah keluar versi strollernya yang reversible (kursi anak bisa diubah menghadap ke depan dan juga ke belakang), namun punyaku hanya versi lamanya yang menghadap depan saja.

Dari segi kenyamanan dan ketangguhan, si TRIP ini juaranya. Ruang duduknya luas, senderannya bisa di-recline untuk memfasilitasi anak tidur lebih nyaman, ada extension kaki di bagian bawah, kanopi stroller besar dengan fitur jendela intip di bagian atas dan belakang yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi udara.

Medan jalan yang berlumpur dan berlubang sekalipun nyaman untuk dilewati si TRIP ini. Bodinya yang tebal kuat untuk dicanteli tas-tas belanjaan, bahkan pernah kugantungkan tabung gas ukuran 3 kg (dengan Hatta duduk di depan) dan masih bisa berjalan dengan mulus. Keranjang penyimpanan barang di bagian bawah tempat duduknya berkapasitas besar dan mudah diakses dari samping maupun belakang.

Setelah Sjahrir lahir, kedua anakku masih muat duduk bersama di dalam si TRIP. Sjahrir memakai seatbelt di belakang, Hatta duduk di depannya. Untuk pengaturan duduk tandem seperti ini memang hanya kugunakan pada medan-medan yang datar saja. Kalau harus menggunakan eskalator, si kakak turun dulu sementara adiknya tetap di stroller. Kalau kakaknya kelelahan, biasanya dia tidur di dalam stroller sementara adiknya di gendongan.

CocoLatte TRIP dalam posisi tiduran
CocoLatte TRIP dalam posisi tiduran plus ekstensi dibuka
CocoLatte TRIP cocok untuk kondisi outdoor
CocoLatte TRIP cocok untuk kondisi outdoor

Stroller Coco Latte TRIP nyaman untuk posisi tidur si kecil (atas) dan tangguh untuk kondisi di luar ruangan (bawah)

tandem dengan cocolatte trip
CocoLatte TRIP bisa dijadikan stroller tandem untuk dua anak – sempit sih, tapi anak-anak betah-betah aja, hehe..

Kekurangan dari si TRIP tentunya adalah ukurannya yang besar dan tidak ringkas untuk dibawa travel dengan mobilitas tinggi. Dengan berat mencapai 7 kg, dibutuhkan tenaga ekstra untuk mengangkatnya dari bagasi mobil, dan dibutuhkan dua tangan serta hentakan satu kaki untuk membukanya dari posisi terlipat. Sudah jelas TRIP ini kurang cocok masuk kabin pesawat karena ukuran dan bebannya.

Pencarianku akan stroller yang cocok untuk bepergian jauh dengan anak-anak masih berlanjut.

Apakah kamu sudah menemukan stroller idamanmu?

 

3 Comments Add yours

  1. Azita says:

    Pencarianku berakhir di isport aja ni karena memang jarang travelling ke tempat yang ramah stroller. Dan setuju kasian anak kalau harus ketiduran di isport, jadi kadang kalau terpaksa tidur atau minum susu yang biasanya sambil tiduran, aku berhenti dulu dan strollernya dimiringkan jadi posisi anak rada rebah 😀

    1. Mel Allira says:

      Wah, Zita repot juga ya kalau strollernya sampai harus dimiringkan dulu supaya anak bisa posisi agak rebah.. Pencarian untuk stroller travel yang ringkas namun bisa direbahkan terus berlanjut nih 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *