Mengajarkan Toleransi Pada Anak Melalui Buku

Akhir-akhir ini media sosial ramai dengan berbagai bahasan berbau SARA yang merembet dari ranah pribadi hingga ke level nasional. Hubungan pertemanan diuji, kedewasaan bermasyarakat disorot tajam, dan keutuhan berbangsa pun dipertaruhkan.

Berkaca pada kejadian-kejadian tersebut, saya melihat interaksi sehari-hari kedua anakku, Hatta dan Sjahrir, di rumah. Dua anak balita yang tengah tumbuh dan belajar tentang dunia sekitarnya, yang tentu masih jauh dari paham tentang pentingnya bertenggangrasa dan saling bekerjasama dalam masyarakat. Namun di lingkungan terkecil inilah, di dalam lingkaran keluarga intinya, mereka perlu diajarkan tentang hal-hal mendasar mengenai toleransi, yang bisa menjadi bekal yang berharga di masa depan.

Sederhana saja, dengan usia mereka yang berdekatan, seringkali keduanya berebut mainan atau perhatian orangtuanya, yang kadang berlanjut pada perkelahian fisik. Jika tidak ditangani dengan benar, bukan tidak mungkin perseteruan antar kakak beradik ini dapat berlanjut hingga mereka dewasa, dan memengaruhi perilaku mereka dalam kehidupan bermasyarakat.

Bu, ini masih balita lho anaknya… Masak sih udah kepikiran bakal berdampak sampai masa tuanya?

Oke, mungkin terlalu jauh rasanya untuk mengaitkan hal sekecil ini dengan implikasi besarnya di tingkat masyarakat, namun menurut saya kita bisa memulai dari hal-hal yang kecil di tingkat keluarga untuk mencetak individu-individu yang bermanfaat bagi masyarakat nantinya.

Sejak kehadiran sang adik, hampir dua tahun yang lalu, saya merasa Hatta menjadi agak posesif pada barang-barang miliknya, dan juga ibunya. Hingga saat ini, sudah tak terhitung berapa kali si Sjahrir (yang masih tak berdaya melawan atau melindungi dirinya sendiri) dijahili kakaknya yang entah cemburu karena adiknya mendapat perhatian dari orang-orang atau memang sekedar iseng saja. Sjahrir kerap dibentak, dicubiti, didorong, bahkan kadang dipukul atau ditendang Hatta jika si adik ingin bermain lego (milik bersama) atau mencicipi cemilan kakaknya.

Pusing tujuh keliling kudibuat oleh kondisi hubungan kakak-beradik tersebut. Walaupun sudah diberitahu baik-baik hingga ditegur dengan tegas, namun tetap sulit untuk memberi pemahaman pada sang kakak bahwa perilaku agresifnya pada sang adik tidaklah baik.

This slideshow requires JavaScript.

Beberapa bulan yang lalu saya menemukan sebuah buku anak yang bagus di salah satu toko buku besar di Jakarta. Buku yang berjudul “I Can Share” (Aku Bisa Berbagi) karya Karen Katz ini menarik perhatianku karena mengangkat tema pentingnya bertoleransi dan berbagi untuk anak kecil.

Bukunya ditulis dalam bahasa inggris yang sederhana, dengan banyak gambar yang menarik, disertai pesan-pesan moral yang mengena. Diantaranya buku tersebut mengisahkan beberapa tokoh berbeda yang belajar untuk memahami keinginan orang lain (baik teman atau saudara, kakak atau adik, perempuan atau laki-laki, anak berkulit gelap atau berkulit cerah, tua atau muda) untuk berbagi mainan, makanan, tempat bermain, bahkan teman. Lebih seru lagi, buku tersebut menawarkan kegiatan interaktif berupa stiker yang bisa dicopot pasang pada lembar-lembar halamannya.

Setelah dibaca bersama, buku tersebut ternyata cukup berkesan bagi Hatta. Tentu tidak sekali dua kali setelah buku itu dibaca lantas sang kakak mau berbagi mainannya dengan sang adik. Namun lambat laun setelah beberapa bulan buku tersebut dibaca berulang-ulang pada berbagai kesempatan, Hatta sudah bisa belajar mengalah, bahkan menawarkan adiknya untuk berbagi mainan bersama. Sebuah kemajuan yang membahagiakan bagi orangtuanya.

Kami lalu menemukan buku karya Karen Katz lainnya dalam serial Young Readers-nya yang berjudul “No Hitting!” (Jangan Memukul). Mirip dengan buku sebelumnya, buku ini juga menyampaikan pesan-pesan moral dengan tawaran solusi bagi tiap permasalahan.

This slideshow requires JavaScript.

Contohnya, dikisahkan seorang kakak yang kesal pada adiknya karena kepala bonekanya dipatahkan. Namun alih-alih memukul adiknya, ia memilih untuk melepas emosi dan memukul-mukul panci masakan. Tokoh lainnya merasa sebal dan ingin mencoret-coret buku bacaan kakaknya, namun akhirnya menuangkan kekesalannya dengan menggambar di papan tulis. Seorang anak yang jengkel terhadap ibunya karena disuruh mengenakan pakaian yang tidak disukai, memilih untuk loncat-loncatan di atas tumpukan daun kering daripada mengamuk dan berteriak-teriak.

Kisah-kisah sederhana yang ditampilkan di buku ini memang memikat dan mudah dipahami oleh anak balita. Hatta pun menunjukkan progres perilaku yang jauh lebih baik setelah membaca kedua buku tersebut. Pada level individu dan keluarga, buku-buku ini dapat mengajarkan bagaimana cara mengelola emosi dan menyalurkannya pada perilaku yang lebih positif. Pada level yang lebih tinggi, buku-buku ini mampu memperkenalkan dasar-dasar toleransi dalam kehidupan social untuk bekal si kecil ketika dewasa kelak.

Cek juga dua buku lainnya dalam serial Young Readers karya Karen Katz, yang juga mengajarkan pesan-pesan moral sederhana bagi anak kecil: “Excuse Me!” (Maaf) dan “No Biting!” (Jangan Menggigit!).

“I Can Share” dan “No Hitting” karya Karen Katz. Diterbitkan tahun 2011 oleh Grosset & Dunlap (USA).

Apakah kamu punya rekomendasi buku-buku yang mengajarkan pesan-pesan moral yang baik bagi anak-anak? Tinggalkan komentarmu di bawah ya!

22 Comments Add yours

  1. Seama says:

    Halo mba Mel, terima kasih info bukunya. Nama anaknya bagus sekali. Betul setuju kita perlu banyak bertoleransi dan menghargai beda pendapat.

    1. Mel Allira says:

      Terimakasih Mbak Seama 🙂

  2. inda chakim says:

    belajarku sm si kecil ken blm nyampek sini nih mbk, tp emang perlu bgd ya mbk, ngenalin si kecil dg toleransi sejak usia dini.
    jd pgn ngikut jejmu, tengkii sharenya ya mbk

    1. Mel Allira says:

      Sama-sama, Mbak Inda 🙂

  3. bunda rizma says:

    thank you mel…
    begitu ya kalau sudah punya adik, aku jg lagi cari referensi buku biar Rizma nanti sayang dan mau berbagi dengan adiknya.

    1. Mel Allira says:

      Iya Lok, cukup menantang memang kalau sudah ada kakak dan adik.. makanya buku ini sangat membantu

  4. Belum punya anak, tapi aku ngerasa penting banget untuk mengajarkan toleransi sejak dini mbak. Aku sedih lihat generasi muda sekarang mudah tersulut dan kesulitan menerima perbedaan. 🙁

    1. Mel Allira says:

      Betul Mbak, pembelajaran nilai-nilai toleransi sejak dini memang penting saat ini

  5. trik news says:

    membaca adalah pintu untuk mengetahui dunia secara global….jadi buku itu penting untuk media referensi buat anak bahkan orang dewasa sekali pun

  6. sulis says:

    Iya mbak Mel..aku juga suka manfaatin buku. Biasaya aku pake buku2 penerbit lokal…hi..hi, yang murah. Lumayan ngefek kok… Pelan2, pasti inti cerita akan tertanam.

    Btw, ternyata sama..anakku klo udah berebut..bisa mendadak mbikin darah tinggi

    1. Mel Allira says:

      Iya Mbak Sulis, buku lokal maupun impor sama-sama bagus untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik.. Iya ya, Mbak anak rebutan memang suka bikin nyut nyutan kepala, huhu

  7. Grace Melia says:

    Mba Mel, setuju untuk poin mengajarkan moral lesson ke anak salah satunya lewat buku anak. Ini buku nya bagus banget yah. I love them esp yang I Can Share. Aku ada rekomendasi juga, Mba. Seri cerita Kimi dan Mimi yang judulnya Indahnya Persahabatan. Di situ diceritakan tentang Kimi yang hidup di keluarga Kristiani dan punya teman yang Lebaran, Galungan, dan Waisak. Murah banget loh bukunya, 10 ribu perak doank. Kertasnya tebal. Gambarnya colorful. Nggak kalah dari buku impor (apalagi utk buku seharga 10K). Hehehe. Ini reviewnya: http://www.gracemelia.com/2015/11/indahnya-persahabatan.html

    1. Mel Allira says:

      Waah, terimakasih infonya Mbak Grace.. Bukunya bagus ya! Belum nemu buku si Kimi dan Mimi ini di Gramedia, apa masih dijual ya? Kalau ada mau dong diinfo, hehe

  8. Anne Adzkia says:

    Buku memang salah satu media belajar dan terasa juga sih manfaatnya. Dari kisah-kisah sederhana, mereka malah lebih mudah mencerna kasusnya. Saya suka bukunya mbak, memang cocok utk young readers ya.

    1. Mel Allira says:

      Iya buku-buku yang menargetkan pembaca muda memang biasanya lebih ngena ya pesannya untuk anak kecil, Mbak Anne…

  9. Ria says:

    wow, bagus sekali pengaruh buku tersebut ke anaknya. Bisa jadi dia memang cemburu sama adiknya ya. dan itu berabe jg kl gak buru2 diatasi. Salut saya…

    1. Mel Allira says:

      Iya, semoga pelan-pelan anaknya juga bisa ngerti ya dengan dibacakan buku-buku ini, Mbak Ria..

  10. pandora says:

    bukunya enid blyton saya suka sejak masih anak-anak mbak, sekarang pun juga masih 🙂

    1. Mel Allira says:

      Iya Enid Blyton juga kesukaanku pas masih kecil.. nanti kalau anak-anakku udah besar mau diperkenalkan juga ke bacaan tersebut 🙂

  11. Betul mba lewat buku atau cuplikan film pendek bisa mentransfer pesan moral ke anak. Akupun sama mba banyakin beli buku dan baru tahu buku keren ini. Segera mencari 🙂

  12. nitalanaf says:

    Iya ketimbang ngomel2, mending dijelaskan melalui media buku ya lebih mengena. Mba nama anak2 bagus ya, nama2 pahlawan. Sehat2 terus anak2 ya, mba

  13. Ilham says:

    menagajarkan anak hal yang baik sejak dini memang sangat lah penting … agar kelak menjadi anak yg baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *