Mengelola Emosi Anak Balita

Memasuki usia 3 tahun—fase yang terkenal dengan sebutan ‘terrible three’—celoteh, rengekan, dan emosi Hatta yang meledak-ledak sudah menjadi santapan sehari-hari bagiku. Di usianya tersebut Hatta mulai belajar tentang beragam jenis emosi, namun masih kesulitan untuk mengkomunikasikan perasaannya secara jelas, sehingga kerap mengalami tantrum jika dirinya merasa kurang dipahami oleh orangtuanya.

Rupanya tidak hanya saya yang menghadapi permasalahan tersebut, namun banyak orangtua dari anak-anak seusia Hatta pun mengalaminya. Memperpanjang sumbu kesabaran dan mencari cara komunikasi yang lebih efektif untuk menyalurkan emosi si kecil rasanya menjadi tantangan yang sangat besar bagiku.

Sayapun berupaya mencari informasi lebih lanjut mengenai tips and tricks menghadapi naik-turunnya emosi bocah usia 3 tahun dari berbagai sumber. Ada beberapa buku bacaan anak yang memperkenalkan jenis-jenis emosi dan cara menyalurkannya dengan lebih baik, ada pula workshop-workshop bagi orangtua untuk mengembangkan hubungan komunikasi yang lebih baik dengan anaknya.

Beruntung saya menemukan info adanya workshop khusus bagi orangtua dan anak yang mengajarkan teknik-teknik praktis cara efektif mengelola emosi anak, khususnya yang berusia antara 3 hingga 7 tahun. Akhir pekan lalu saya mengikuti workshop tersebut yang diselenggarakan oleh Leader Lab Indonesia, lembaga yang kerap mengadakan kelas untuk membantu anak-anak mengembangkan potensinya. Tidak hanya itu, Leader Lab Indonesia juga sering mengadakan workshop untuk orangtua, anak, nenek dan kakek, maupun babysitter dengan tema yang beragam dari pendidikan seksual dini hingga tips bermain yang mengasah kreativitas pada anak.

Bertempat di Mighty Minds Preschool, Jalan Hang Tuah, Jakarta Selatan, kelas yang saya ikuti merupakan serangkaian dari tiga workshop Children’s Emotion Class. Namun kali ini saya memilih untuk mengikuti satu kelas saja.

This slideshow requires JavaScript.

Sejak menginjakkan kaki di lokasi sekolah, suasana nyaman langsung terasa. Pepohonan rindang tumbuh di halaman depan, mengelilingi sebuah playground yang luas. Memasuki ruang registrasi, satu sisi dinding penuh dengan mainan menarik yang menjadi favorit anak-anak. Hatta yang pada dasarnya pemalu, langsung semangat mendatangi mainan-mainan balok, puzzle, dan maze yang tampak di hadapannya.

Setelah sekitar 20an anak beserta orangtua dan pendampingnya berkumpul di ruang tengah sekolah, acara pun dimulai. Anak-anak diajak berkumpul mengelilingi seorang fasilitator untuk mendengarkan kisah asal-usul nama kota Surabaya. Sesi story telling ini dilakukan menggunakan alat bantu kertas berlaminating yang menampilkan gambar anak-anak tentang adegan-adegan antara si Suro dan si Boyo.

Melalui kisah tersebut, anak-anak diperkenalkan pada beragam emosi yang dirasakan oleh karakter-karakter cerita, seperti rasa marah yang dialami oleh si Suro ketika melihat si Boyo mencari makan di dalam wilayah kekuasaannya, juga rasa sedih yang menerpa si Boyo ketika dimarahi oleh si Suro. Sang fasilitator pun membawakan kisahnya dengan intonasi suara, ekspresi muka, dan bahasa tubuh yang mendukung bagi anak-anak untuk lebih menjiwai emosi-emosi yang terlibat dalam kisah Suro dan Boyo.

This slideshow requires JavaScript.

Sesi selanjutnya adalah bagian yang paling penting dan aplikatif: memperkenalkan teknik-teknik mengendalikan emosi bagi anak. Awalnya sang fasilitator merefleksikan kembali berbagai emosi yang dirasakan oleh tokoh Suro dan Boyo dalam kisah sebelumnya. Ia kemudian bertanya pada peserta anak-anak apakah mereka pernah merasa marah dan apa penyebabnya. Beberapa anak yang ditanya memberikan jawaban yang jujur apa adanya seperti misalnya: “Aku marah kalau mama marahin aku” dan “Aku kesal kalau ada yang merebut mainanku”.

Sang fasilitator pun menimpali jawaban anak-anak, “Oke, kalau begitu, sekarang kita belajar yuk… Lain kali kalau aku kesal, bagaimana caranya supaya tidak langsung marah-marah ya? Karena kalau kita marah-marah, nanti orang lain sedih.”

In focus pun dinyalakan dan disorotkan ke layar, menampilkan gambar-gambar yang menarik. Ada gambar ayunan, kucing menggeliat, buah lemon, lalat, wortel, dan lain-lain. Apa maksudnya semua gambar tersebut?

Sang fasilitator pun menjelaskan tiap gambar satu per satu. Untuk gambar kucing menggeliat ia bercerita, “Kalau kamu sedang kesal, coba yuk kita ambil posisi seperti kucing ini. Panjangkan tangan ke depan dan stretch!” Anak-anak pun menghadapkan badan ke lantai dan menggeliat seperti kucing. “Meongggg!” sang fasilitator bersuara, diikuti oleh anak-anak. “Nah, kalau lagi kesal, daripada marah-marah, kamu bisa mengeluarkan emosimu seperti si kucing ini. Tunggu beberapa saat, nanti rasa marahmu akan berkurang,” jelasnya.

Berlanjut ke gambar lemon. “Kalau kamu sedang kesal, coba gerakkan tanganmu seperti sedang memeras lemon!” Anak-anak pun mengikuti gerakan sang fasilitator sembari berekspresi sepenuh hati.

Lalu gambar ayunan. “Kalau kamu sedang kesal, coba gerakkan tanganmu seperti ayunan sambil membuang nafas!” Anak-anak pun mengayun-ayunkan tangannya ke depan dan ke belakang, sambil membuang nafas dengan suara yang keras.

Untuk gambar kura-kura, sang fasilitator mengajak anak-anak untuk mengikuti gerakannya. “Kalau kamu ingin marah, coba sembunyikan kepalamu ke dalam bajumu seperti kura-kura sampai rasa kesalmu berkurang!”

Sementara untuk gambar wortel, anak-anak diajak mempraktekkan gerakan seakan-akan sedang menggerogoti sebatang wortel untuk melepas rasa amarahnya.

Melalui gambar-gambar lainnya, anak-anak diajarkan untuk mengontrol emosinya melalui gerakan-gerakan seperti meloncat-loncat, menggoyangkan hidung seakan-anak ada lalat yang hinggap di atasnya, meraba perut sendiri sambil bergumam, menghitung dari angka satu hingga sepuluh, dan menggerakkan jemari kaki.

Usai mempraktekkan semua gerakan tersebut, anak-anak kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diberikan potongan-potongan kertas bergambar wortel, ayunan, lemon, dkk untuk diwarnai, ditempel di karton, lalu dijilid secara sederhana menggunakan tali sehingga menjadi buku saku yang bisa dibawa pulang.

This slideshow requires JavaScript.

Awalnya saya tidak tahu apakah teknik ini akan efektif diaplikasikan pada Hatta, namun rupanya si anak happy-happy saja mengikuti gerakan-gerakannya, dan terus menanyakannya hingga kembali ke rumah.

Sesi selanjutnya diikuti dengan permainan sederhana di mana setiap anak diberikan sebuah sedotan, lalu diminta meniup secuil kapas bulat, mengikuti ‘jalur rel’ yang terbuat dari potongan stiker panjang yang ditempel ke lantai. Memastikan bulatan kapas yang ditiupnya tidak keluar jalur membutuhkan ketekunan sendiri dari si anak, sehingga diharapkan aktivitas tersebut dapat mengajarkan cara bersabar dan tidak cepat marah. Permainan meniup kapas ini cukup digemari oleh anak-anak, khususnya penggemar kereta seperti Hatta.

Workshop pun diakhiri dengan sesi yoga untuk anak yang dilakukan dalam kondisi cahaya lampu yang temaram. Pose-pose yoga yang dilakukan cenderung melatih anak untuk tenang, berkonsentrasi, dan cooling down. Asyik juga untuk diterapkan di rumah nanti. Kebetulan sejak Hatta berusia satu setengah tahun dia memang suka mengikuti gerakan-gerakan yoga yang kulakukan di teras samping rumah.

Secara keseluruhan saya merasa workshop pengelolaan emosi anak yang diselenggarakan oleh Leader Lab Indonesia ini sangat bermanfaat, apalagi sang anak turut serta mempraktekkan teknik-tekniknya bersama teman-teman seumurnya. Jarang-jarang memang kutemukan workshop dengan tema ini, khususnya yang melibatkan peran serta orangtua dan anaknya. Jadi kepengen ikutan workshop-workshop mereka yang lain deh!

 

2 Comments Add yours

  1. driani sari says:

    Ihh bagus ya kak. Pengen ngakak kebanyangi anak kecil menyalurkan emosinya mengeliat seperti kucing.

    1. Mel Allira says:

      Iya Mbak Driani, bagus banget materi acaranya, dan lucu liat bocah-bocah bergaya ala kucing dan lain-lainnya, hehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *