10 Hal yang Perlu Dilakukan Orangtua Sebelum Mengajak Balita Naik Pesawat

Pernahkah kamu mengalami kejadian ketika si kecil menangis terus menerus sepanjang perjalanan di dalam pesawat terbang? Saya pernah mengalaminya ketika si Hatta berusia 14 bulan, dalam penerbangan dari Jakarta ke Bali. Ternyata ia merasa kurang nyaman di dalam kabin pesawat yang pengap, dikelilingi puluhan orang yang tak dikenal. Saya pun harus bersabar menghadapi rasa frustrasinya, sembari menghindari tatapan mata penumpang lainnya.

Pengalaman dua setengah tahun yang lalu itu memaksaku untuk memutar otak mempersiapkan penerbangan berikutnya agar berjalan dengan lebih lancar. Apalagi kali ini adiknya, Sjahrir, 18 bulan, turut serta dalam penerbangan dengan rute yang sama: Jakarta – Bali.

Bepergian dengan dua balita tentu menjadi tantangan baru bagiku dan Ray, dan belajar dari pengalaman sebelumnya kami melakukan hal-hal berikut sebagai persiapan sebelum naik pesawat:

  1. Kenalkan anak pada pesawat terbang dan bandara

Sebelum mengajaknya naik pesawat terbang, ajak si kecil mengenali konsep pesawat terbang dan bandar udara, baik melalui mainan, buku bacaan, maupun tontonan film. Dengan begitu, si kecil tidak akan terlalu kaget ketika melihat pesawat terbang secara langsung, dengan ukurannya yang besar dan suara mesinnya yang keras. Kemungkinan dia juga akan lebih santai ketika bertemu dengan alat pemindai x-ray, ban berjalan, konter cek in, dan hal-hal baru lainnya yang hanya ia temui di bandara.

Sudah sejak lama Hatta dan Sjahrir kuperkenalkan pada buku dan film tentang pesawat terbang seperti ‘Airport’ terbitan Playtown, ‘Terbang’ karya Rassi Narinka, ‘Suara Apa Itu’ karya Devi Raissa, dan serial ‘Planes’ yang menampilkan tokoh pesawat Dusty Crophopper. Buku ‘Liburan Terbaik’ terbitan Rabbit Hole ID juga menjadi referensi yang bagus bagi anak untuk memperkenalkan konsep packing barang sebelum bepergian.

Buku-buku tentang pesawat terbang dan bandara yang kubacakan kepada anak-anak sebelum diajak naik pesawat
Buku-buku tentang pesawat terbang dan bandara yang kubacakan kepada anak-anak sebelum diajak naik pesawat
  1. Pilih jadwal penerbangan yang bersahabat

Banyak yang bilang, supaya anak anteng ketika naik pesawat, pilih jam terbang menjelang waktu tidurnya, agar si kecil pulas sepanjang perjalanan. Namun berhubung jam tidur anak-anak biasanya berbarengan dengan jam tidur orangtuanya, maka strategi ini kurang pas bagi kami. Lagipula karena Hatta dan Sjahrir ngefans berat dengan pesawat terbang, rasanya sayang jika perjalanan di pesawat dilewatkan begitu saja.

Sejauh ini kami masih membatasi penerbangan-penerbangan berdurasi pendek (maksimal 2 jam) bersama anak-anak untuk menghindari resiko mereka bosan. Kamipun mencari jadwal terbang yang sesuai dengan waktu aktifnya anak-anak, tidak terlalu pagi, dan tidak terlalu malam. Dengan demikian semuanya masih dalam suasana hati yang happy dan tidak terganggu jam istirahatnya.

Membawa lebih dari satu anak naik pesawat tentu membutuhkan tabungan ekstra, apalagi si Hatta sudah dihitung membayar satu tiket sendiri (walau belum semahal tiket orangtuanya). Sementara itu karena Sjahrir belum genap 2 tahun, ia hanya membayar 10% dari total harga tiket normal bagi orang dewasa. Karena itu penting untuk hunting tiket dari jauh-jauh hari agar mendapatkan harga yang bersahabat di kantong!

Untuk pencarian tiket pesawat, saya mengandalkan Tiket2.com karena mesin pencariannya mampu membandingkan harga-harga tiket pesawat promo dan termurah se-Indonesia dan Asia Pasifik, plus filter-filter uniknya memudahkan untuk mencari jadwal penerbangan yang paling cepat tanpa transit. Menariknya lagi, laman ini menyediakan banyak tips travelling yang bermanfaat, termasuk tips travel bersama anak kecil lho!  Ssst… Tiket2.com juga lagi bagi-bagi tiket gratis tuh. Check it out, moms!

  1. Siapkan dokumen penerbangan jauh-jauh hari

Untuk mengantisipasi penerbangan internasional, sebaiknya sejak jauh-jauh hari sudah dibuatkan paspor untuk si kecil. Jangan lupa cek masa berlaku paspor orangtua, pastikan masih ada minimal 6 bulan sebelum tanggal kadaluarsa. Pastikan urusan visa juga sudah beres paling lambat dua minggu sebelum keberangkatan.

Untuk penerbangan domestik, walaupun belum pernah diminta untuk menunjukkan kartu identitas bagi anak di bawah umur, saya selalu membawa dokumen penunjang seperti paspor anak dan fotokopi KK.

Untuk jaga-jaga, scan dokumen-dokumen penting lainnya dan simpan di dropbox, agar bisa diakses dimanapun dan kapanpun jika mendadak diperlukan. Ini akan sangat membantu jika dompet atau paspor kita (amit-amit) hilang atau dicuri ketika perjalanan.

  1. Packing barang seringkas mungkin

Bepergian bersama dua anak kecil yang aktif membutuhkan kesigapan tinggi dari orangtuanya, apalagi kami travel berempat saja tanpa bantuan orang lain. Usahakan barang yang dibawa ke bandara tersimpan rapi dalam koper atau tas yang tidak terlalu banyak jumlahnya. Jangan sampai orangtua kerepotan mengurus barang bawaan sampai si kecil keleleran ke mana-mana di bandara!

Untuk perjalanan kali ini kami hanya membawa satu koper besar berisi pakaian untuk kami berempat; satu gendongan ransel ber-frame besi (untuk keperluan trekking); satu tas ransel berisi pakaian ganti, minuman, cemilan, dan mainan anak-anak; serta satu tas kecil untuk menyimpan gadget dan dokumen penting.

Turun dari taksi, si Sjahrir langsung digendong olehku, sementara Hatta berjalan sendiri sambil berpegangan tangan pada ibunya. Ray fokus membawa koper, ransel, dan tas kecil. Begitu koper dan gendongan ransel masuk ke bagasi di konter cek in, Ray bisa berbagi tugas denganku menjaga anak-anak.

Untuk 4 orang, cukup 1 koper besar, 1 ransel, 1 tas kecil dan 1 gendongan yang dibawa ke bandara
Untuk 4 orang, cukup 1 koper besar, 1 ransel, 1 tas kecil dan 1 gendongan yang dibawa ke bandara
  1. Kenakan pakaian yang praktis

Untuk memudahkan proses memasuki bandara, pakaian yang dikenakan oleh orangtua dan anak sebaiknya yang praktis dan sederhana, minim aksesoris yang mudah lepas seperti selendang atau topi, atau benda-benda yang wajib dilepas ketika melewati mesin pemindai x-ray seperti jam tangan dan ikat pinggang. Lagi-lagi ini supaya orangtua bisa lebih fokus pada anaknya, agar tidak lepas dari pengawasan selama di bandara. Handphone dan KTP juga sebaiknya disimpan di dalam tas kecil saja ketika dimasukkan ke mesin x-ray untuk mengurangi resiko barang yang jatuh tercecer.

  1. Siapkan aneka mainan dan cemilan untuk menemani anak sepanjang penerbangan

Bawa mainan favorit si kecil untuk menghibur dirinya sepanjang perjalanan. Saya juga biasa membelikan buku baru tepat sebelum bepergian agar ada bacaan menarik bagi Hatta dan Sjahrir. Maskapai penerbangan tertentu kadang menyediakan mainan dan bacaan bagi penumpang juniornya, namun lebih baik mempersiapkan sendiri dari rumah. Selain itu, cemilan praktis kesukaan si kecil bisa menjadi andalan untuk membujuknya jika suasana hati tiba-tiba menjadi kurang happy atau perutnya lapar.

  1. Datang lebih awal ke bandara

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika bepergian dengan anak-anak. Bisa saja ada barang yang ketinggalan di rumah, si kecil lapar atau harus buang air besar. Lebih baik berangkat lebih awal ke bandara dan meluangkan waktu lebih agar si kecil sempat makan dan ke kamar mandi dulu sebelum naik pesawat, mengecek apakah ada barang yang lupa dibawa dan perlu dibeli dulu, dan lain-lainnya. Dengan begitu, baik orangtua dan anak tidak akan terlalu tergesa-gesa dan bisa lebih menikmati perjalanan.

  1. Kenalkan anak pada lingkungan bandara

Sesampainya di bandara, beri waktu bagi si kecil untuk melihat dan memahami lingkungan sekitarnya. Jelaskan padanya fungsi alat pemindai x-ray, mengapa barang-barang kita harus dimasukkan ke dalamnya, dan ajak dia untuk menunggu hingga tasnya keluar dari ujung ban berjalan. Semua hal ini akan terasa baru baginya dan menarik untuk diperhatikan selama beberapa saat. Anak-anak bisa lho anteng tanpa harus diberi gadget!

Biarkan anak-anak puas bermain di playground bandara sebelum naik ke pesawat
Biarkan anak-anak puas bermain di playground bandara sebelum naik ke pesawat
  1. Bakar energi anak tepat sebelum naik pesawat

Saya sengaja tidak membawa stroller ketika bepergian naik pesawat, utamanya agar krucils bisa menyalurkan energinya dengan berjalan kaki di bandara. Nggak kasihan si kecil nanti kelelahan? Memang itu salah satu tujuannya, supaya kalau sudah naik pesawat dan diharuskan duduk di kursi, setidaknya ia akan lebih tenang dan beristirahat (idealnya sih, walaupun tidak selalu begini hasilnya). Kalau memang kecapean, siap-siap gendong aja (pakai gendongan dong, supaya nggak ribet) atau naik salah satu kendaraan mobilitas bandara yang diperuntukkan khusus bagi keluarga dengan anak kecil, ibu hamil, dan lansia.

Untungnya, bandara-bandara besar di Jakarta dan Bali sekarang sudah menyediakan fasilitas taman bermain anak di ruang tunggu sebelum naik pesawat, sehingga meringankan tugas orangtua untuk menghibur si kecil. Di taman bermain inilah anak-anak bisa bersosialisasi dan beraktivitas membakar energi, dengan harapan bisa sedikit lebih anteng di pesawat.

  1. Biarkan anak mengeksplorasi isi pesawat

Saat masuk ke kabin pesawat, kembali kenalkan si kecil pada fitur-fitur yang ada. Ajari cara memakai sabuk pengaman, tunjukkan lampu tanda harus mengenakan sabuk pengaman, dan pentingnya mengikuti peraturan demi keselamatan bersama. Tidak ada usia yang terlalu dini untuk memperkenalkan konsep keselamatan, dan percayalah cara ini cukup membantu mendisiplinkan si Hatta agar tetap duduk di kursinya sepanjang perjalanan.

Sjahrir, yang masih terlalu kecil untuk memahami pentingnya duduk di kursi, lebih suka jalan-jalan menjelajah lorong pesawat, melihat keluar jendela, memainkan headphones, dan remote televisi. Sekali pernah kubawa dia melihat-lihat isi kamar mandi pesawat, dan ternyata dia cukup terhibur di sana! Yang paling penting ketika take-off dan landing si kecil harus dibujuk untuk duduk di pangkuan sambil dipasangkan sabuk pengaman khusus batita yang tersambung dengan milik orangtuanya.

Biarkan si kecil mengeksplorasi benda-benda di sekitarnya ketika berada di dalam kabin pesawat
Biarkan si kecil mengeksplorasi benda-benda di sekitarnya ketika berada di dalam kabin pesawat

Bagi anak yang sudah cukup besar dan mampu melihat layar televisi dalam posisi duduk dari kursinya, bisa diberi akses tontonan bagi anak. Saya pribadi tidak pernah memberikan gadget pada Hatta dan Sjahrir ketika bepergian karena merasa banyak hal yang bisa dilihat dan dieksplor dari lingkungan sekitar. Namun saya juga tidak terlalu membatasi mereka untuk melihat-lihat tontonan televisi yang tersedia di hadapan kursi pesawat. Hatta cukup senang menonton film kartun, sementara adiknya lebih tertarik memainkan meja lipat.

Semoga tips-tips di atas bisa membantu melancarkan perjalananmu dengan si kecil ya! Tapi ingat, sematang-matangnya persiapan kita pasti banyak faktor lainnya yang bisa memengaruhi mood si kecil selama perjalanan. Kunci utamanya untuk orangtua adalah jangan panik, tarik nafas dalam-dalam, dan optimislah bahwa badai pasti akan berlalu.

Simak juga tips-tips perjalanan lainnya di vlog kami berikut ini ya… Jangan lupa like dan subscribe juga ke Youtube Channelnya! Selamat jalan-jalan!

17 Comments Add yours

  1. Makasih tipsnya mba
    Pengalamanku dulu, kalau panik anak pun jadi panik mba. Ortu harus tetap tenang 🙂

  2. Ratna Dewi says:

    Mbak, menghadapi perubahan tubuh anak pas naik pesawat gimana ya? Misal kan kadang kita sebagai orang dewasa suka ada yang tetiba pusing atau telinga pengang saat take off, landing, atau di atas. Nah kalau anak begitu juga gimana, Mbak?

    1. Mel Allira says:

      Mbak Ratna, untuk menghindari resiko seperti itu sebaiknya bawa cemilan ringan atau minuman kotak favorit si kecil yang bisa dikonsumsi ketika lepas landas/mendarat. Untuk bayi, bisa diberi ASI/susu.

  3. belum punya anak sih. tapi kadang kalau traveling gt masih rada ribet dengan bawaan sendiri. bagaimana kalau bsk pas punya anak yaa. tp btw thank tipsnya kak

  4. Terakhir naik pesawat sm anak2 pas usia mereka 1 n 2th.. Alhamdulillah semua berjalan dg baik. Tp dg usia skrg belum tau nih, khawatir makin gede malah takut. Smoga engga..

  5. Dewi Nielsen says:

    Kayak ponakanku mbak, pertama kali naik pesawat dan pertama kali pula ke luar negeri..heboh kita dia buat..nagis mulu di pesawat..ketakutan dia… he he he..tapi setelahnya terbang kemana2 udah anteng…Salam kenal ya mbak..kunjungan perdana ini 🙂

  6. nova says:

    makasih..tipsnya mba… belum pernah bepergian naik pesawat bareng anak… tapi ini jadi catetan dulu deh…

  7. Rotun DF says:

    Aku pernah Mba, penerbangan pertama anakku. Umurnya masih 6 bulan pas itu, naik pesawat Jakarta-Makassar.
    Sampe ngerasa gak enak sama penumpang lain 🙁
    Makasih tipsnya ya Mba^^

  8. Inna Riana says:

    jadi kangen bawa anak2 naek pesawat. riweuh tapi asyik ya mba 🙂

  9. okti li says:

    Fahmi bilang takut naik pesawat. Sepertinya harus coba dulu mengenalkan nya ya Bunda…
    Perlahan-lahan dicoba nih…

  10. tutyqueen says:

    pengalaman naik pesawat ada anak kecil yang nangis kejer kasian banget, kemungkinan ibunya kurang paham untuk menutup telinga anak, kita saja pada saat mendarat dan turun kuping sering sakit apalagi anak kecil 🙂

  11. Ria says:

    hi mbak, mau tanya, bagaimana mengatasi sakit di kuping saat pesawat bersiap take off dan about to land?

    1. Mel Allira says:

      Hai Mbak Ria, sebaiknya tawarkan si kecil permen/cemilan/minuman saat take off dan landing agar memicu gerakan menelan yang bisa mengurangi rasa sakit di kuping.

  12. Thanks Tipsnya Mbk, aku alhamdulillah anak-anak gak rewel naik pesawat pertama kali.

  13. anakku yg pertama, pertama kali naik pesawat pas umur 10 bulan, dan itu jujurnya bikin aku stress ;p.. hahaha, untung penerbangan pendek medan-sibolga yg cuma 30 menit… masalahnya si papinya ga ada krn ke sibolganya naik mobil… jadi deh aku yg handle si kaka, dan dia lgs crnaky luar biasa pas sadar papinya ga ada :D.. sjak itu, aku ga mau naik pesawat kalo ga dengan suami saat si kecil hrs ikut…untungnya sih, skr krn umurnya udh 4 thn, jd udh ga rewel kayak baby dulu mbak :D.. udh PD lah kalo aku pergi berduaan doang.. nah si adiknya yg skr 9 bulan nih blm prnh naik :D.. ntr tunggu setahunan aja baru diajak ;p

  14. artikel menarik memang sedikit ribet membawa bayi untuk naik pesawat tapi insyaalah kalo kita terapin tips di atas bisa meminimalisir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *