Persiapan Toilet Training untuk si Kecil

Mempersiapkan si kecil untuk melepas popoknya dan buang air sendiri di kamar mandi merupakan bagian penting dalam tahap perkembangannya, namun seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Berikut 10 langkah yang perlu dipersiapkan oleh orangtua untuk memulai toilet training yang efektif bagi si kecil.

 

  1. Persiapan mental orangtua

Siap-siap menjadi lebih repot ketika memasuki masa-masa toilet training karena pada awalnya dipastikan akan banyak drama ompol, becek, dan belepotan kotoran di banyak tempat yang tak terduga. Tapi jangan khawatir, walaupun melelahkan dan menuntut kesabaran lebih, anak kecil pada umumnya cepat belajar dan bisa memberitahu orang-orang di sekitarnya jika ingin ke kamar mandi.

 

  1. Buat peraturan bersama orang rumah

Orang-orang di rumah yang ikut mengurusi si kecil perlu menyepakati bahwa masa toilet training telah dimulai dan semua diharapkan ikut mendukung prosesnya. Ini termasuk kakek dan nenek, serta pembantu atau pengasuh lho.

Ada kalanya orangtua sudah semangat membiasakan toilet training bagi si kecil, namun menjadi kurang konsisten ketika nenek atau mbak tidak mau repot membereskan ompol dan memilih untuk memasangkan popok kembali.

 

  1. Siapkan banyak celana!

Dengan kandung kemih yang berukuran kecil, anak-anak biasanya sering pipis. Namun seiring dengan bertambahnya usia dan kemampuan komunikasi, lama-lama si kecil sudah bisa diberi pengertian untuk menahan pipis dan memberi tahu orang di sekitarnya jika ingin ke kamar mandi.

Untuk masa-masa awal, si kecil perlu dibiasakan untuk mengenali sensasi tidak nyaman ketika buang air di celana. Untuk itu kita perlu menyiapkan banyak cadangan celana bersih.

Saya memilih untuk hanya memakaikan celana pendek saja (tidak dengan celana dalam) kepada Hatta dan Sjahrir saat toilet training karena ini memudahkan mereka untuk belajar melepas celana sendiri ketika ingin ke kamar mandi. Tentu kondisi ini dilakukan ketika berada di rumah saja, dan bukan ketika bepergian.

 

  1. Sering-sering ajak si kecil ke toilet

Awalnya si kecil seringkali belum ngeh jika memiliki dorongan untuk buang air, sehingga orangtua perlu rajin mengajaknya ke kamar mandi. Lama-lama pola buang air si kecil sudah terlihat, dan kita bisa memperkirakan kapan saja perlu mengajaknya ke toilet.

Mulailah dengan membawanya ke kamar mandi setiap satu jam sekali, setelah dia minum banyak, dan sebelum/sesudah bangun tidur. Perhatikan juga bahasa tubuhnya dan identifikasi tanda-tanda dia sedang kebelet pipis atau pupup. Apakah dia tampak tegang, meloncat-loncat di tempat, atau sakit perut? Jika ya, langsung ajak dia ke kamar mandi.

 

  1. Kenalkan si kecil pada potty

Jika toilet duduk dirasa terlalu tinggi dan toilet jongkok terlalu lebar untuk si kecil, coba perkenalkan dirinya pada alat bantu berupa potty. Bentuknya yang sesuai dengan ukuran tubuh anak kecil akan lebih memudahkan dirinya untuk duduk dan buang air dengan tenang.

Namun jangan heran jika awalnya si kecil belum familiar dengan si potty ini dan menolak untuk menggunakannya. Sering-sering memperkenalkannya, peragakan cara memakainya, dan puji si kecil setiap kali ia mau menggunakannya. Beberapa usaha pertama mungkin agak berantakan, namun itu hal yang normal.

Jadikan momen buang air lebih menyenangkan dengan memberikan penghargaan sederhana seperti gestur tos tangan, menyanyi bersama, atau mengelus-elus punggung si kecil.

Saya sengaja membelikan Hatta dan Sjahrir potty berbentuk hewan yang cukup menarik bagi mereka untuk mau duduk di atasnya. Bagian telinga hewannya sekaligus berfungsi sebagai pegangan yang membantu mereka ketika sedang konsentrasi buang air besar.

 

  1. Kenalkan si kecil pada toilet seat

Setelah fasih menggunakan potty, si kecil bisa diajak naik level dan diperkenalkan dengan mini toilet seat yang dipasang di atas dudukan toilet orang dewasa. Siapkan bangku kecil di dekat toilet untuk memudahkan anak naik sendiri ke toilet seatnya. Seiring dengan waktu (kira-kira setahun – dua tahun) si kecil sudah bisa mencebok dirinya dan menyiram toilet sendiri.

Sebagai catatan, saya memulai toilet training pada Hatta ketika ia berusia 1,5 tahun. Lepas popok dari pagi sampai sore hingga usia 2 tahunan. Setelah itu tidur malamnya pun sudah bisa tanpa popok. Menjelang usia 4 tahun dia sudah bisa melepas celananya sendiri, berlari ke kamar mandi dan duduk di toilet, mencebok dirinya sendiri, menyiram toilet, kemudian memakai celananya lagi.

 

  1. Alasi tempat tidur agar anti-ompol

Khusus untuk tidur siang dan tidur malam si kecil, persiapkan alas anti-ompol yang memudahkan orangtua untuk membereskan kecelakaan-kecelakaan kecil yang terjadi. Bisa dengan memasang alas ompol, perlak, ataupun seprei waterproof. Saya paling suka menggunakan lapisan seprei waterproof di bawah seprei biasa karena tinggal dilepas, dilap , dan diangin-angin hingga kering jika kena ompol.

This slideshow requires JavaScript.

  1. Pakaikan clodi saat tidur malam

Penggunaan popok kain modern atau cloth diaper (clodi) bisa sangat membantu proses toilet training. Selain lebih hemat dan ramah lingkungan, clodi bisa mengajarkan si kecil untuk mengenali sensasi lembab ketika pipis di kala tidur, sehingga lama-lama ia akan bangun sendiri dan meminta untuk dibawa ke kamar mandi.

Untuk tidur malam si Sjahrir saya seringkali memakaikan clodi Little Hippo. Lapisan kain microfibernya berdaya serap baik dan mencegah kebocoran berlebih ketika tidur malam. Motifnya yang super lucu membuatnya enak dipandang dan menarik bagi si kecil. Ukurannya juga bisa disesuaikan dengan bentuk dan ukuran tubuh, serta nyaman untuk dipakai ketika beraktivitas. Suka banget dengan kualitas si Little Hippo, dan harganya juga murah!

 

  1. Apresiasi si kecil dan juga diri sendiri

Perlu diingat bahwa perkembangan setiap anak berbeda, sehingga kemampuan toilet training masing-masing juga akan bervariasi. Kesabaran dan ketelatenan orangtua juga berbeda-beda levelnya dan turut memengaruhi kesuksesan toilet training pada anak.

Jalankan dengan santai dan tidak perlu terlalu memaksakan kehendak pada si kecil dan juga pada diri sendiri. Apresiasi setiap tahap perkembangan yang telah dicapai si kecil, dan pujilah diri sendiri atas hasil kerjasama kalian.

Ada kalanya perkembangan si kecil seakan ‘mundur’ kembali, menjadi sering ngompol lagi atau menolak buang air di kamar mandi. Hal ini sangat normal dan kadang terjadi ketika tengah berlangsung perubahan di lingkungan sekitarnya, seperti kehadiran adik baru, pengasuh baru, atau kehilangan anggota keluarga terdekat.

Jangan patah semangat! Beri waktu dan pengertian bagi si kecil untuk mengatur emosinya. Tetap dukung, apresiasi, dan curahkan perhatian lebih padanya agar cepat kembali pada kebiasaan toilet trainingnya.

 

  1. Siapkan ‘toilet darurat’ untuk perjalanan

Ketika orangtua sudah cukup percaya diri untuk mengajak si kecil keluar rumah tanpa memakai popok dalam waktu yang agak lama, perlu dipersiapkan beberapa peralatan khusus untuk mengantisipasi kejadian-kejadian tak terduga.

Selain membawa baju ganti dan tisu basah saat bepergian, orangtua perlu menyiapkan ‘toilet darurat’ bagi si kecil. Untuk anak laki-laki bisa disiapkan botol kosong untuk menampung pipis, sedangkan untuk anak perempuan bisa disiapkan kantong plastik. Untuk buang air besar, kantong plastik wajib dibawa ke mana-mana. Ini akan berguna khususnya ketika berada di dalam mobil dan situasi tidak memungkinkan untuk berhenti mencari toilet.

 

Jadi, sudah siapkah kamu mengajari si kecil toilet training?

8 Comments Add yours

  1. Sinta Legian says:

    Terima kasih infonya. Anak saya juga sedang dalam masa toilet training. Tapi belum berani kalau ke luar rumah yang membutuhkan waktu yang cukup lama tanpa diapers. Hehe.

    1. Mel Allira says:

      Hai Mbak Sinta, sama-sama ya… bertahap aja, Mbak.. kalau anaknya sudah pintar komunikasi dan menahan pipis, mungkin bisa dicoba untuk diajak keluar rumah dengan durasi yang makin lama makin panjang

  2. Naufal says:

    anak itu emang harus di ajari sejak dini.. klo telat mengajari, nanti sudah besar susah untuk mengajarinya..

    1. Mel Allira says:

      Iya, Naufal.. Mumpung masih kecil dan mudah belajar perlu dibiasakan toilet training

  3. Waaa bener bgt itu mba, mental ortu ditempatin di nomor satu. Hehe.. Aku ngerasain sendiri sih kadang memang kitanya malah yg belum siap buat masuk ke fase toilet training. Udah keenakan gak repot dgn diapers soalnya yaa.. 😀

    1. Mel Allira says:

      Hihi iya, Mbak Dita.. diapers memang membuat ortu terlena, hehe

  4. Ratu SYA says:

    toilet khususnya lucu mbak

    1. Mel Allira says:

      Iya, Mbak.. supaya si kecil betah jadi pilihnya yang lucu, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *