Roadtrip bersama bocah

Sudah lama aku dan Ray ingin mengajak anak-anak bepergian jarak jauh menggunakan mobil. Namun begitu banyak pertimbangan yang muncul: Apakah anak-anak akan kecapekan di jalan? Apakah kami, orangtuanya siap secara mental untuk membawa para bocah ke tempat baru yang jauh dari rumah? Adakah tempat yang menarik dikunjungi untuk anak di bawah usia tiga tahun? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang berujung pada keraguan untuk pergi sama sekali.

Sampai pada suatu hari di awal Januari 2016, setelah membaca berita mengenai peluncuran taman baru yang menarik di Bandung, tiba-tiba kami nekad pergi saja. Awalnya ingin berkunjung ke Bandung saja, namun malah banting setir sedikit ke Cirebon. Tak disangka malah berlanjut ke Pekalongan, Semarang, Salatiga, dan akhirnya Solo. Kalau bukan karena si Hatta yang setelah hari keenam mulai minta pulang karena kangen rumahnya di Bogor, kami mungkin sudah lanjut ke Jogja dan pulang lewat jalur selatan.

Walaupun jalur selatan dikatakan lebih cantik pemandangannya, namun dengan pertimbangan membawa anak-anak kecil yang kemungkinan cepat lelah dan rewel jika dibawa melewati jalur yang terlalu panjang, maka kami pilih jalur cepat melewati Tol Cipali. Jalur yang relatif mulus dan mem-bypass banyak lokasi macet.┬áPilihan yang tepat rupanya karena terdapat banyak tempat peristirahatan sepanjang jalan dengan fasilitas toilet bersih–satu hal yang krusial ketika membawa anak-anak.

Taman Pandan Alas Boyolali - prosotan
Istirahat sejenak di Taman Pandan Alas, Boyolali

Jalur Pantura ternyata juga memiliki beberapa restoran/kafe yang ramah bagi anak kecil–satu di Brebes, satu di Semarang. Kami bahkan menemukan sebuah taman publik dengan fasilitas bermain anak yang bagus di Boyolali. Sebuah kejutan manis bagi orangtua dengan dua bocah yang sulit berdiam diri lama-lama.

Roadtrip kami tidak betul-betul direncanakan secara matang sejak sebelum berangkat. Mendekati kota tujuan biasanya aku akan menelepon beberapa tempat penginapan untuk mengecek ketersediaan kamar dan kesesuaian harga, lalu langsung menuju ke lokasi untuk check-in.

Berbekal ulasan di TripAdvisor dan beberapa laman travel terpercaya lainnya, kami lalu memutuskan akan berkunjung ke mana saja keesokan harinya. Jadwal dibuat sefleksibel mungkin, menyesuaikan dengan jam makan dan tidur anak-anak. Kegiatan yang kami lakukan biasanya hanya berkutat di satu lokasi saja, atau maksimal dua lokasi yang berbeda setiap harinya. Tidak bisa ngotot mau ke sana ke mari dalam waktu yang singkat seperti dulu ketika masih belum berbuntut dua.

Tempat-tempat yang dikunjungi pun diusahakan cukup menarik bagi anak-anak–setidaknya untuk si sulung yang sudah cerewet di usianya yang hampir tiga tahun. Sjahrir untungnya masih belum banyak protes. Di Cirebon, Hatta bisa puas lari-larian dan melihat kereta kencana besar di Kraton Kasepuhan. Di Pekalongan, ia sempat bosan melihat display kain-kain batik di Museum Batik, namun sangat tertarik menonton proses pembatikan–apalagi motif yang dibatik adalah tokoh kesukaannya: Thomas the Tank Engine!

2016_0107_10551100
Hatta antusias melihat foto-foto kereta api di Lawang Sewu, Semarang

Di Semarang, Hatta bisa anteng di Lawang Sewu, melihat-lihat pameran foto kereta api dan berpura-pura menjadi masinis di odong-odong kereta api mini. Highlight bagi Hatta tentu adalah kunjungan ke Museum Kereta Api di Ambarawa. Sibuk dia bolak-balik naik-turun bermacam-macam lokomotif, bertanya banyak hal tentang makhluk-makhluk raksasa itu.

Sesampainya di Solo, Hatta terlihat sudah mulai bosan dengan perjalanan panjangnya. Kami pun harus menyesuaikan agenda perjalanan dengan mood si bocah. Kunjungan ke Museum Danar Hadi–tujuan utama sang Ibu–terpaksa berbelok dulu ke Taman Sriwedari untuk mengajak Hatta naik kereta monorel. Setelah itu kami sempat lama berdiri di pinggir jalan Slamet Riyadi menunggu lewatnya busrail Batara Kresna yang bunyi klaksonnya bisa terdengar hingga puluhan meter jauhnya. Hatta tetap tidak mau ke museum, sehingga akhirnya ia dan Ray menghabiskan waktu di restoran museum sementara aku dan Sjahrir mengikuti tur batik di Museum Danar Hadi.

Pada akhirnya aku baru tahu bahwa anak kecil pun punya titik jenuh dalam sebuah perjalanan. Dan sebagai orangtua yang suka travel, aku dan Ray harus belajar memahami keinginan sang anak: Pulang.

Bagiku tidak ada penyesalan dalam perjalanan itu. Aku tidak pernah mematok target harus jalan-jalan sampai ke mana dalam waktu sesingkat itu. Ketika bepergian dengan anak-anak, setiap lokasi yang didatangi dan aktivitas yang dilakukan sudah merupakan sebuah bonus. Dengan begitu, kami pun bisa lebih menikmati perjalanan.

Motif batik pesanan Hatta di Museum Batik Pekalongan :)
Motif batik pesanan Hatta di Museum Batik Pekalongan ­čÖé

Apakah kamu punya pengalaman roadtrip bersama bocah yang berkesan?

One Comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *