Dari Sungai ke Pantai: Wisata Taman di Singapura

Liburan ke Singapura selalu menarik bagiku karena terdapat banyak taman publik yang seru untuk dikunjungi bersama si kecil. Jujur, aku tidak pernah tertarik untuk mendatangi mal-mal di sepanjang Orchard Road atau theme parks di Sentosa Island, karena negeri tetangga itu justru menyediakan banyak ruang terbuka hijau yang gratis. Sehat untuk badan dan pikiran, dan tentunya enteng di dompet!

Mencari Keong di Sungai

Dalam tulisan ini aku akan bercerita tentang dua taman publik kesukaanku di Singapura. Yang pertama adalah Bishan Ang Mo Kio Park, sebuah taman yang unik dikarenakan fitur-fiturnya yang mengedepankan teknologi rekayasa alam, daur ulang sampah, serta edukasi mengenai pelestarian lingkungan.

Ketika pertama kali berkunjung ke taman tersebut, tidak terbayangkan sebelumnya bahwa sungai alami yang mengalir di tengah-tengahnya dulu merupakan kanal beton yang tidak menarik. Melalui papan-papan informasi yang terpasang di sepanjang pinggiran sungai, pengunjung pun belajar tentang proses transformasi aliran Sungai Kallang yang menggunakan pendekatan soil bio-engineering. Kanal sempit yang dahulu membentang lurus, kini telah dibuat berkelok-kelok menggunakan rekayasa bronjong batu, aneka material batu dan tanah, serta penanaman tumbuh-tumbuhan air.

Rekayasa tanah untuk menciptakan sungai alami di Bishan Ang Mo Kio Park

Baca juga: Southern Ridges Walk, Urban Trekking di Singapura

Aku dan Hatta benar-benar menikmati ketenangan dan keasrian Bishan Ang Mo Kio Park ketika berjalan menyusuri bantaran sungainya yang membentang sepanjang 2,7 kilometer. Sungai Kallang menjadi bintang utamanya, dengan beraneka macam tempat duduk—dari bangku, bebatuan, hingga amphitheater—yang diletakkan secara strategis di sepanjang sungai agar pengunjung dapat menikmati pemandangannya.

Tiga taman bermain tersebar di berbagai penjuru Bishan Ang Mo Kio Park, salah satunya mengintegrasikan kolam pasir raksasa dengan instalasi air yang menarik. Di sini anak-anak bisa bermain sambil belajar tentang sifat-sifat air dan bereksperimen membuat aliran sungai menggunakan pintu-pintu kanal mini yang bisa dibuka-tutup sendiri.

This slideshow requires JavaScript.

Baca juga: Teratai, Yoga, dan Biola: Kumpul Komunitas di Taman Lembang – Suropati 

Di salah satu pojok taman terdapat bukit kecil yang menyuguhkan pemandangan Bishan Ang Mo Kio Park secara keseluruhan dari ketinggian. Ternyata bukit ini beserta monumen yang terpancang di atasnya, terbuat dari sampah yang didaur ulang!

Aku dan Hatta lalu menemukan jalan setapak berbatu yang mengarah ke sungai, melewati semak-semak belukar yang tertata rapi. Saat itu permukaan sungai tidak terlalu tinggi, sehingga kami bisa berjalan-jalan di pinggirannya, bahkan mencemplungkan kaki ke dalam airnya. Sekumpulan warga yang ternyata tinggal di apartemen-apartemen di sekitar Bishan Ang Mo Kio Park tampak aktif menyisir dasar sungai dan mengumpulkan keong untuk dimasak kemudian disantap! Hatta pun penasaran dan ikutan menginspeksi hasil tangkapan keong yang terkumpul di dalam sebuah kotak.

This slideshow requires JavaScript.

Baca juga: Taman Publik untuk Anak-anakku, RPTRA di Jakarta

Ketika mengobrol dengan seorang bapak yang tengah menemani anak-anaknya mencari keong di sungai, aku menerima reaksi terkejut darinya saat ia mengetahui asal-usulku. “Kamu dari Indonesia, sedang liburan ke Singapura, dan kamu memilih untuk main ke sini?” tanyanya. “Saya belum pernah ketemu turis Indonesia yang mau jalan-jalan ke taman”, lanjutnya dalam bahasa Inggris berlogat Singapura yang kental. Kamipun tertawa.

Usai bermain di sungai, perut pun mulai terasa keroncongan. Untung ada GRUB, sebuah restoran lokal yang terletak di tengah taman dan menyajikan menu Western seperti burger, fish and chips, salad hingga es krim. Fasilitas restoran dan pelayanan stafnya juga sangat ramah terhadap anak kecil; babychair dan peralatan makan anak tersedia dengan baik, dan salah seorang staf bahkan membantu memesankan kami taksi untuk kembali ke hotel setelah tahu bahwa kami bukan warga lokal Singapura.

Bishan Ang Mo Kio Park bisa diakses dengan berjalan kaki selama 5 menit dari stasiun MRT Bishan. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada pagi atau sore hari ketika sinar matahari tidak terlalu terik. Jalur trotoar dari stasiun hingga taman sudah nyaman untuk dilewati pengguna stroller maupun kursi roda.

Taman Bermain di Pinggir Pantai

Taman berikutnya yang juga menjadi favoritku di Singapura adalah Pasir Ris Park yang terletak di pinggir pantai, tidak jauh dari IKEA. Taman ini bisa diakses dengan berjalan kaki selama 10 menit dari stasiun MRT Pasir Ris.

Salah satu keistimewaan Pasir Ris Park adalah tersedianya beraneka macam playground yang dibangun sesuai dengan tahapan usia anak dari balita hingga remaja. Setiap wahana bermain bahkan ditandai dengan jelas peruntukannya untuk anak dalam rentang usia berapa. Dengan demikian orangtua bisa membedakan dengan jelas playground manakah yang tepat untuk tahapan perkembangan anaknya, dan tingkat supervisi seperti apa yang dibutuhkan ketika bermain.

This slideshow requires JavaScript.

Baca juga: Jogging dan Bersepeda di Taman Heulang Bogor

Seingatku, semua permukaan lantai playgroundnya—dari wahana balita hingga wahana remaja—telah dilapisi bantalan karet yang aman, sehingga tidak perlu khawatir si kecil terluka jika terjatuh saat bermain.

Wahana bagi anak usia balita hingga sekolah dasar meliputi labirin seru yang berliku, permainan edukasi yang melibatkan suara serta olah fisik, juga pembelajaran ilmu fisika dasar terapan. Sementara wahana bagi anak-anak yang lebih besar meliputi aneka macam ayunan dan perosotan, jembatan goyang, hingga flying fox.

This slideshow requires JavaScript.

Baca juga: Kejutan di Boyolali, Taman Pandan Alas

Sebagai taman, Pasir Ris Park sangat luas dan terbentang beberapa kilometer sepanjang garis pantai, dengan lapangan sepak bola, meja-meja piknik dan gazebo, trek lari dengan pohon-pohon yang teduh, penyewaan aneka jenis sepeda, sekolah berkuda, hingga spot kemping dan BBQ yang bisa digunakan oleh publik.

Oiya, tips bagi kamu yang ingin membawa balita mengunjungi taman-taman publik di Singapura: jangan lupa membawa makanan dan minuman yang cukup untuk menemani sepanjang perjalanan, stroller, serta sunscreen. Ketika berkunjung bersama Hatta, sengaja kubawa juga baju bayi umur 1 tahun yang nyaman untuk jaga-jaga jika harus berganti pakaian.

Kecintaanku pada taman-taman publik di Singapura selalu membuatku ingin kembali ke negeri kecil yang cantik itu. Namun untungnya dalam beberapa tahun belakangan, kota-kota besar di Indonesia, dan khususnya tempat kami tinggal di Jakarta juga sudah mulai bersolek dan menambah taman-taman publik yang ramah bagi anak. Apakah artinya Jakarta mulai berubah menjadi seperti Singapura? Semoga.

2 Comments Add yours

  1. yayat says:

    singapura negara kecil tapi ditata dengan apik.. moga kita bisa kayak gitu juga

    1. Mel Allira says:

      Iya Mbak Yayat, semoga lebih banyak taman cantik dan fungsional di Indonesia ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *